Sedang Belajar

: belum tahu di pedas lada (belum berpengalaman)

Apa Kabar Pelaksanaan K13 di Sekolah Paring Raya?

Kebaikan dari pejabat Disdikpora Kabupaten Seruyan membuat saya memiliki kesempatan untuk berkunjung ke sekolah-sekolah yang jauh ke dalam hutan atau menyepi ke tepi sungai. Saya diamanahi menjadi instruktur kurikulum 2013 mapel bahasa Indonesia.

Bersama Pak Agung (instruktur IPA) saya berencana jalan-jalan ke Desa Paring Raya dan menuju Satap 3 Seruyan Raya. Bertujuan untuk ngobrol-ngobrol dengan Ibu Ranti, Ibu Fauziah, dan Pak Agau (kepala sekolah) mengenai kurikulum 2013.

Untuk mencapai sekolah ini saya harus menempuh jalur air. Berkat kebaikan hati Pak Agung, saya bermalam di rumah beliau sehingga bisa menaiki kendaraan air pagi hari (jarak rumah saya ke tempat Pak Agung sekira 70 km). Jika long boat yang digunakan maka perjalanan akan mencapai 30 menit, sedangkan perjalanan memakai klotok (onomatope dari sampan bermesin berbunyi tok-tok-tok) berdurasi akan mencapai 60 menit. Hitungan menit ini di luar hujan deras.

Saya sangat antusias dengan pengalaman ini, sepanjang perjalanan banyak hal baru yang saya pelajari semisal; rumah-rumah warga yang menghadap sungai dan memunggungi jalan, tanaman-tanaman baru, hingga burung rangkong dan bekantan yang mengaso di tepian sungai. Sejujurnya anak sungai ini bernama, namun dikarenakan pancaindra saya sedang khusyuk menikmati alam baru ini, saya melupakannya. Ah, sayang sekali!Gerimis sepanjang perjalanan. Saya pun tiba di Desa Paring Raya dan merasakan sensasi berjalan di atas jalan kayu yang menghubungkan setiap rumah di desa berpopulasi sekira 50 kepala keluarga ini. Orang baru yang berkunjung ke tempat ini tentu akan mudah dikenali karena cara berpakaian, cara berbicara, hingga perawakannya. Di desa ini, kita akan lebih mengutamakan obrolan-obrolan dengan kawan dan tetangga sebagai sarana berhibur karena ketiadaan jaringan listrik permanen dan sinyal ponsel.

Saya pun berkunjung ke sekolah dengan jumlah siswa sebanyak 17 orang (kelas VII hingga kelas IX). Sebuah ruangan disulap menjadi dua kelas yang berbeda. Ketika kami sampai di sekolah, murid-murid berhamburan melarikan diri. Saya yang mengupayakan senyum setibanya di sekolah, kebingungan dengan sikap anak-anak. Rupa-rupanya setelah bertanya pelan-pelan, anak-anak itu menjawab dengan bahasa Banjar dengan dialek yang tak saya kenal. “Mereka ketakutan karena mengira kami adalah dokter yang akan menyuntik mereka :D.”

Bu Ranti dan Bu Fauziah dan Pak Agau berjuang luar biasa untuk menyelenggarakan kegiatan belajar di sekolah. Di sekolah ini mendiskusikan perubahan kurikulum 2013 yang terus-terusan direvisi adalah kemewahan. Di sini, kegiatan belajar dilangsungkan secara tradisional, namun tentu saja bukan berarti hal ini tak baik. Karena ketulusan dan keihklasan guru pasti akan berbenih di sanubari siswa sesederhana apapun metode, media, dan materi belajarnya. Insya Allah!

Dalam perjalanan pulang saya membatin, betapa banyaknya tantangan dan tugas guru-guru di Indonesia. Saya pun menjura pada guru-guru pejuang yang ikut SM3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Kabar yang saya baca, Kabupaten Seruyan mendapatkan kuota guru program ini terbanyak se-Kalimantan Tengah. Semoga kita bisa berlari mengejar segala kekurangan ini :).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Goodreads

Keren Tanpa Rokok

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 19 pengikut lainnya

kontak via fb

Arsip

Kategori

Pengunjung

  • 90,749 orang

Sedang Berkunjung

%d blogger menyukai ini: