Sedang Belajar

: belum tahu di pedas lada (belum berpengalaman)

AADC 2 dan Tiga Jenis Hindu

Akhir April adalah euforia film AADC 2. Bagi puisi, film ini menyajikan puisi pada ruang baru di masyarakat. Umpamanya diksi “Kulari ke hutan kemudian teriakku” atau “Pecahkan saja gelasnya biar ramai” yang begitu entengnya menemplok di ingatan generasi penonton akil baligh kala itu.

“Lihat tanda tanya itu, jurang antara kebodohan & keinginanku, memilikimu sekali lagi” diksi pamungkas yang membuka peluang platina untuk M. Aan Mansyur. Peluang untuk memantik hal baik sebagaimana keranjingannya anak-anak pada Harry Potter atau pikuknya Ranu Kumbolo gegara 5 cm, lengkap dengan foto selfie pendaki bertagar my trip my adventure.

Tumbuh rasa penasaran disebabi teaser resmi AADC 2 pada detik ke 37-39. Nongol teks “Setelah 14 tahun” disusul “masih adakah cinta?”. Memang tahun 2002, apa yang terjadi sih? Ketika saya menulis artikel ini, pemutar musik sedang membunyikan Oasis. Ketika browsing ternyata salah satu lagu Oasis berjudul The Hindu Times dirilis tahun 2002. Lagu tersebut, instan menarik kenangan saya pada murid-murid dan bos tempat bekerja.

Inline image 1  Inline image 2

Ada tiga siswa di sekolah yang beragama Hindu. Tanpa pengajar beragama sama, saya memikul tanggung jawab menemani belajar siswa. Siswa bernama Putu pemeluk Hindu (transmigran dari Bali) ujian praktik dengan membakar dupa, menyiapkan bunga, berdoa, dan membaca Tri Sandhya. Siswa bernama Arya & Andre pemeluk Hindu (suku Dayak Ngaju) ujian praktik dengan menyenandungkan puji-pujian beberapa kuatren yang termaktub pada Kandayu dan menuliskan artinya. Untuk memudahkan, saya menyebut Hindu Bali dan Hindu Kaharingan ketika belajar.

Ah,  mereka tahu persis betapa payahnya saya. Situasi nyata, dimana anak-anak lebih paham daripada gurunya. Seringkali saya kehabisan bahan belajar dan kesulitan membuat soal dan juga mengoreksinya, meskipun saya sudah memiliki buku pelajaran untuk masing-masing Hindu. Mudah-mudahan mereka bisa merasakan kepedulian dan penghargaan dari sekolah.

Pemiliik perusahaan tempat saya bekerja beragama Hindu. Sehingga saya pernah memintakan izin pada Pendeta Kuil Shelva Ganaphaty agar Putu bisa ibadah bersama di kuil, dibandingkan belajar dengan saya. Namun, kedua orang tua Putu beberapa malam setelahnya mengatakan pada saya agar Putu tidak dianjurkan belajar di Kuil karena ada beberapa hal yang secara akidah berbeda. Kedua orang tuanya lebih memilih Putu ditemani belajar oleh guru kw macam saya.

Obrolan dengan pendeta kuil membuka kesempatan platina pada saya untuk mendokumentasikan selama 3 hari kegiatan ibadah yang bertajuk utama Divine Blessings of Lord Selva Vinayagar Perumaan. Wow, saya memiliki kesempatan khusus memasuki kuil dan melihat dari dekat dan lengkap kegiatan ibadahnya!

Setelah tiga hari kegiatan yang rata-rata dimulai pukul 04.00 dan diakhiri 20.00, ada banyak persembahan untuk Dewa yang berdasarkan elemen alam; bumi, api, air, dan angin. Setiap elemen dilaksanakan ritual persembahan yang berbeda-beda. Untuk bumi didiapkan cangkul, untuk api disiapkan suryakanta, untuk air disiapkan air susu sapi, dan untuk udara disiapkan benda yang mirip piala. Saya tak punya kesempatan bertanya pada ritual yang dilaksanakan dengan mayoritas bahasa Tamil tersebut. Namun, satu hal yang saya ingat pasti adalah kuil ini memuja Dewa Ganesha. Persis ikon gajah pada logo ITB.

a5b14c3b-ce2e-4e11-884d-68036252f4a1   f650afbf-5e7c-40e8-8221-154d3f9a018c   468cfbbe-24df-463b-bad5-fb8cb1512e06

Hal lain yang saya ingat adalah adanya duo musikus yang memainkan nadhaswaram (alat musik tiup) dan thavil (alat musik pukul). Pasangan kembar yang belajar alat musik langsung dari India selama 5 tahun. Keduanya bermain penuh dan bertugas mendramatisasi suasana ketika sesaji akan diserahkan pada Dewa. Saya melihat hal baru dan membahagiakan lainnya yaitu adanya pemeluk Buddha dan Ibu Putu di dapur kuil ikut membantu memasak untuk makanan para tamu.

Inline image 3  

Akhirnya menunggu tayang AADC 2 di lobi bioskop Palma 21 Palangka Raya, ingatan saya pun mengendap pada istri hebat saya, teman-teman lucu di SMA, dan pemred buruan.co yang menagih tulisan tentang kuil Hindu🙂.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 11 Mei 2016 by in Bahan Belajar, Film, Helo Borneo, Pendidikan, Ruang Kelas, Sekolah Eksternal and tagged , , , , .

Navigasi

Goodreads

Keren Tanpa Rokok

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

kontak via fb

Arsip

Kategori

Pengunjung

  • 86,552 orang

Sedang Berkunjung

%d blogger menyukai ini: