Sedang Belajar

: belum tahu di pedas lada (belum berpengalaman)

Memanen Bahan Belajar Siswa dari Berlin Proposal

Konteks membaca intensif puisi Afrizal Malna terakhir bagi saya adalah antologi “Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing”. Sehingga ketika membaca antologi “Berlin Proposal” ada rasa kaget yang ditawarkan di setiap empatsub-bagian antologi ini yaitu berlin proposal, kaldera, arsip pemotretan tubuh, dan paket kiriman.

Rasa kaget ini mengingatkan saya pada antologi puisi “mbeling” karya Remy Sylado. Ah, barangkali selera awam saya yang berpegang teguh pada peraturan dan ajaran resmi (ortodoks).

DSC02307
Puisi paling awal “memotret cermin” membuat kejutan dengan tipografi abjad yang dibuat 2 buah lingkaran mengelilingi gundukan abjad yang tidak terbaca. Lalu, “puisi digital” dengan garis-garis yang membentuk paragraf tanpa abjad (pola sama dalam puisi “tektonik digital” & “resonansi garis”). Lalu “bungkusan kematian” sebuah puisi testimoni hukum cambuk di Aceh berupa foto dari surat kabar Jerman (pola sama dalam puisi “hotmail: otto dix”). Lalu “teritori digital” puisi barcode, ya sebenar-benarnya bentuk barcode. Saya berangan jika saja memiliki alat pindai barcode, saya ingin memindai puisi ini, siapa tahu itu akan memunculkan bentuk puisi berupa teks pada monitor atau bahkan sebuah gambar grafis lainnya. Sebuah peta harta karun barangkali🙂.


Pada puisi “kaldera” sebuah puisi bazaar dengan banyaknya diksi dan istilah mengenai gunung berapi Indonesia. Kata dibuat berjajar rapi menyerupai parkir supermarket grosir dan penebalan untuk diksi Toba, Krakatau, dan Tambora saja. Sebuah pengkhususan untuk gunung-gunung supervolcano yang mengubah paras atmosfer dan iklim dunia.

Namun cita rasa Afrizal Malna masih bisa diambung pada potongan puisi salah satu kesukaan saya
“apartemen identitas”

aku ingin bisa melihat angin. menatapnya
menggenggamnya. menghembuskan setiap
pecahan aku ke aku yang lain. biji-biji bahasa
berjatuhan. seseorang melihatku melalui mata
sebuah bangsa, di eugene sue. telah berlalu
meninggalkan yang akan berlalu. biji-biji bahasa
memecah identitas, kamus-kamus tercabik.
malam yang datang bersama suara ambulan. kita
belajar sendiri-sendiri ketika bersama.
….

Atau pada puisi “paket kiriman”, sebuah ensiklopedia mini tahun 1900-1937 bertipografi panji simetris di kedua halaman nan lancip. Penulisan sumber utama puisi pun dituliskan Chronology of the European Avant Garde by Chris Michaelides. Sayang hanya sampai tahun tersebutlah perbandingan informasi di Eropa dan Indonesia dilakukan oleh Afrizal Malna.

Secara keseluruhan, catatan moabit (nama distrik di Jerman) merupakan pintu terbaik menelusuri antologi “berlin proposal” agar tidak sasar. Sebuah kata pengantar yang memukau, bahkan sudah menjadi puisi tersendiri bagi saya, penggemar kata pengantar.

Pada tahap inilah, saya sudah melihat jalan setapak yang bisa ditempuh sebagai upaya menambah bahan belajar siswa di kelas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Goodreads

Keren Tanpa Rokok

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

kontak via fb

Arsip

Kategori

Pengunjung

  • 86,552 orang

Sedang Berkunjung

%d blogger menyukai ini: