Sedang Belajar

: belum tahu di pedas lada (belum berpengalaman)

Resensi Buku Kumpulan Cerpen Perempuan Patah Hati ….

Judul kumpulan cerpen buku ini sungguh memikat bagi awam seperti saya. Alih-alih mencoba menggali-gali diksi baru dan segar untuk sebuah judul, Eka Kurniawan memilih Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Sebuah kalimat yang bisa saja ditemui secara tak sengaja dalam tayangan sinetron-sinetron Turki yang sedang ramai.

_DSC1937

Seluruh cerpen dalam buku ini sangat mengesankan dalam hal eksplorasi tema, kedalaman cerita, dan suasana yang beraneka. Parameter rentang eksplorasi bisa kita identifikasi dari media pemuat cerpen. Mulai dari Koran Tempo hingga Play Boy (sebelum dicekal). Meski membaca tak harus dari halaman pertama, susunan cerpen pada buku adalah sebuah gubahan menarik. Diawali dengan Gerimis yang Sederhana  sebuah humor tentang tabiat pria dengan kecenderungan mendua. dan diakhiri dengan Pengantar Tidur Panjang kisah kematian seorang ayah yang memekarkan hikmat tepat pada hari berpulangnya.

Kesenangan saya bertambah ketika membaca buku ini dengan adanya cerpen semisal  Kapten Bebek Hijau sebuah fabel tentang rasa syukur, yang mengagetkan kehadirannya. Saya sampai bergumam, “Eh, bisa ya? Dongeng seperti H.C. Andersen disisipkan disini.” Lantas ada harapan Eka Kurniawan mau menulis buku cerita anak-anak. Lanjut ke Cerita Batu personifikasi dengan sudut pandang yang menarik. Si Batu yang tabah dan pendendam, barangkali jika Gollum pada J.R.R. Tolien dikutuk menjadi batu, ia akan seperti batu pada cerpen ini, bukan batu Malin Kundang. Suasana tenang dibawa mencekam dalam Teka-Teki Silang. Kisah misterius mengenai berbahayanya sebuah teks dan jawaban. Dimulai dengan mengundang rasa penasaran dan diakhiri dengan kejutan dari Juwita, sang tokoh utama. Kita dihibur kembali dengan dan Pelajaran Memelihara Burung Beo  sebagai cerita moral mengenai pernikahan. Sungguh, saya sampai ngakak baca cerita ini, ngakak yang ada di tengah rasa pilu dan gembira. Dan tentu saja favoritnya Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi tentang ajakan untuk mempercayai intuisi, mimpi, dan menjadi pustakawan itu keren. Cerpen ini merupakan pintu masuk yang baik untuk anak usia pubertas membaca karya sastra. Ada pula cerpen yang paling membuat saya geleng-geleng karena tidak paham, Tiga Kematian Marsilam. Membaca cerpen ini mengingatkan saya pada mimpi yang berlapis-lapis di film Inception besutan Christopher Nolan atau pelintiran mengenai waktu pada Harry Potter seri Prisoner of Azkaban. Barangkali inilah sebagian gen tulisan Eka Kurniawan; selalu ada eksplorasi pada humor dan misteri.

Sejujurnya cerpen lainnya tak kalah asyik, namun saya terpaksa menyeleksi beberapa judul dengan dasar pertimbangan kesesuaian teks dengan usia pembaca; anak SMP. Sebagai bahan belajar bagian cerpen ataupun drama, meski untuk beberapa bagian perlu disunting. Batasan-batasan membaca yang membelenggu, tapi biarlah dulu.

Pada akhirnya saya beruntung bisa membaca kumcer yang meraih nominasi Kusala Khatulistiwa tahun 2015. Merasa beruntung sembari merasa nahas karena tidak ada buku di Seruyan, Kalimantan Tengah.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 9 Februari 2016 by in Bahan Belajar, Buku, Cerpen Siswa, Pendidikan, Ruang Kelas, Sastra and tagged , , .

Goodreads

Keren Tanpa Rokok

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

kontak via fb

Arsip

Kategori

Pengunjung

  • 86,552 orang

Sedang Berkunjung

%d blogger menyukai ini: