Sedang Belajar

: belum tahu di pedas lada (belum berpengalaman)

Selamat Ulang Tahun ke-21!

Beberapa hari kemarin, pada tanggal yang sama dengan lagu Iwan Fals “22 Januari” ada yang berulang tahun. Tentu setiap hari ada orang yang berulang tahun. Namun bagaimana jika ternyata ucapan selamat berulang tahun ke-21 disampaikan pada murid kita yang masih kelas 9 SMP?

Saya lantas membayangkan diri saya yang sudah berkuliah di usia itu. Mengapa keterlambatan murid ini begitu lama? Rata-rata usia temannya sesama kelas 9 adalah 14-15 tahun, berselisih 6 tahun.

Ketika mendaftar di sekolah, saya ambil risiko dengan memberikan hak sekolahnya. Meski sebenarnya terbit kecurigaan sewaktu membaca raport dari sekolah asal yang masih diisi dengan pensil dan nilainya tidak lengkap. Saya curiga raportnya fiktif, diisi dengan tergesa-gesa. Kecurigaan saya terbukti ketika menelepon kepala sekolah asal.

Saya ngobrol dengan anak ini ketika proses mendaftar, karena ayahnya yang mengantar tidak fasih berbahasa Indonesia dan tuna aksara. Bapak tersebut hanya tertunduk memainkan telapak tangannya yang kasar dan kelupas.

Panji : “Kemana saja, baru sekolah sekarang?”

Anak : “Ayah pindah-pindah tempat kerja Pak, mulai dari Terawan, Tabiku, Danau Sembuluh.” (Desa-desa ini bertetangga tapi jaraknya jauh. Dari Terawan ke Danau Sembuluh bisa mencapai 3 jam perjalanan sepeda motor.

Panji : “Ayah kerja apa?”

Anak : “Jaga ladang punya orang, pernah juga manen di sawitan, pernah juga nangkap ikan.”

Panji : “Di tempat kerja yang dulu, tidak ada sekolah?”

Anak : “Ada pak, tapi keluar gitu nah..

Panji : “Keluar tanpa kabar ya?”

Anak : “Iya pak, malu ada utang.”

Panji : “Sebenarnya lebih pas kalau sekolah kejar Paket B dan C supaya waktunya tidak terlalu ketinggalan. Tapi di Kabupaten Seruyan ini tidak ada.”

Anak : “Jadi gimana Pak, saya diterimakah Pak disini?”

Panji : “Sekolah tidak pernah menolak murid. Tapi harap sekolah serius dan tuntas karena mubazir waktu. Tolong raport ini diperbaiki de sekolah asal, ditulis pulpen, dan diisi nilai-nilainya yang masih kosong.”

Anak : “Saya di terima ya pak? Alhamdulillah! Kapan saya mulai bisa sekolah?”

Panji : “Besok, boleh. Jangan lupa berkas pendaftaran lain dilengkapi. Ingat, selesaikan ya sekolahnya!”

Anak : “Iya pak, makasihlah Pak.”

Ketika bersalaman saya tersenyum kepada ayah pengantar yang bertopi sedari tadi. Terlihat jelas, rupanya mata sebelah kirinya cedera. Saya curiga ada serpihan kayu tajam pernah tertancap disitu ketika memotong kayu menggunakan chain saw.

“Bapak pernah kerja di kayu juga?” Saya bertanya spontan.

“Iya pak.” Jawabnya sembari tersenyum.

:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 27 Januari 2015 by in Adagium and tagged , , , , .

Goodreads

Keren Tanpa Rokok

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

kontak via fb

Arsip

Kategori

Pengunjung

  • 86,515 orang

Sedang Berkunjung

%d blogger menyukai ini: