Sedang Belajar

: belum tahu di pedas lada (belum berpengalaman)

Sebuah Hadiah, Sebuah Hari yang Indah

Tim Tari SMP Tunas Agro & Pak Herman (guru seni)

Apa yang melintas di pikiran ketika kata UN disebut? Ketegangan, stres, kelulusan, kisruh, doa bersama, atau menjamurnya bimbel? Ah, banyak sekali yang bisa dituliskan. Tapi saya tidak ingin menuliskan perasaan dan pikiran saya tentang UN. Saya ingin menuliskan kisah seorang murid yang memiliki dua lesung pipit pada kedua pipinya. Murid ini telah duduk di kelas IX dan bersiap akan melaksanan UN pada saat itu.

Pada suatu pagi yang cerah, Sabtu tanggal 20 April 2013. Dua orang siswa puteri mengetuk pintu kantor. Tampak sekali mereka memaksakan diri untuk masuk  ke kantor. Saya sendiri tersenyum dan pura-pura bersembunyi sekalian di bawah meja agar mereka tersenyum dan berpikir, “Hei, saya gurumu yang senang bercanda itu loh.

Akhirnya mereka tersenyum, sekejap saja. Lantas keduanya menunduk, memainkan jemarinya pada ujung pandang, dan matanya mulai dipenuhi air. Mereka berbisik dengan kata-kata yang sepertinya berat untuk diucapkan. Suasana menjadi beku, kaku, penuh ketegangan.

Siswa : “Pak, kami mau minta maaf?”

Saya   : “Minta maaf kenapa?”

Siswa : “Kami berbohong! Kami telah menyimpan sepatu di atas lemari kelas, tidak di rak sepatu di luar kelas”

Saya   : “Oh, ya sudah, tidak apa-apa.”

Siswa : “Tidak pak, kami ingin dihukum seperti teman-teman yang lain.”

Lantas tubuh mereka berdua gemetar. Tak kuat menahan tangis. Tak kuat menahan perasaan. Ah, saya pun gilanya terpengaruh dan mulai melakukan hal yang sama. Namun saya, menangis karena kebahagiaan bukan karena perasan bersalah. Bahagia bahwa mereka berdua menganggap “UN itu remeh temeh”, tidak seperti kejujuran yang sedang ditawarkan.

Saya   : “Baiklah, kalau begitu tuliskan dalam dua halaman alasan menyimpan sepatu tersebut.”

Siswa : “Tambah lagi pak, hukumannya.”

Saya   : “Tidak, tidak. Itu sudah cukup nak. Seharusnya kalian diberi hadiah atas keberanian ini.”

Dan saya setelah sekian lama, merasakan perasaaan sedikit pantas menjadi guru. Teruntuk Indah Indriani dan Nita Riani Sepitri terima kasih kesempatan untuk belajar bersama kalian di sekolah.

Di kepala saya lantas, sayup-sayup terdengar lagu Bill Withers – Lovely Day.

When I wake up in the morning, love
And the sunlight hurts my eyes
And something without warning, love
Bears heavy on my mind

Bill Withers

Then I look at you
And the world’s alright with me
Just one look at you
And I know it’s gonna be
A lovely day
Lovely day, lovely day, lovely day

When the day that lies ahead of me
Seems impossible to face
When someone else instead of me
Always seems to know the way

sumber foto: Bill Withers

Bill Withers di Wikipedia 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Goodreads

Keren Tanpa Rokok

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

kontak via fb

Arsip

Kategori

Pengunjung

  • 86,515 orang

Sedang Berkunjung

%d blogger menyukai ini: