Sedang Belajar

: belum tahu di pedas lada (belum berpengalaman)

Indehoi di Tumbang Malahoi

Sekolah kami telah mengajarkan pelajaran PBD (Pendidikan Budaya Dayak) selama dua tahun terakhir. Hal ini cukup menantang karena 13 dari 14 guru kami adalah guru pendatang di Kalimantan Tengah. Kami menjadikan buku Maneser Panatau Tatu Hiang (Menyelami Kekayaan Leluhur) sebagai andalan. Sebagai upaya untuk lebih dalam menyelam. Saya menyambut kesempatan yang ditawarkan oleh Lukman A. Sya-wartawan yang telah bekerja sama dengan humas Kabupaten Gunung Mas-untuk berkunjung ke Tumbang Malahoi.

izin memasuki Betang Betang Toyoi

Saya bertanya dan mencari-cari informasi mengenai Tumbang Malahoi yang banyak diberitakan melalui laman-laman berbahasa asing. Hasilnya adalah kegelapan. Saya bertanya-tanya lagi kepada tetangga dan penduduk lokal. Hasilnya adalah jawaban semisal labirin. Ah, barangkali inilah keasyikannya.

Kawan tersebut dan saya berniat meliput kegiatan Rakernas ketiga AMAN (Aliasni Masyarakat Adat Nusantara). Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan masyarakat adat dari ke 33 provinsi, tidak ada satupun provinsi yang tidak ada wakilnya! Tentu hal ini sangat mengasyikkan, rasanya 14 jam yang telah ditempuh, lunas oleh kesempatan melihat Suku Dayak Ngaju dalam menjamu tamu dari seluruh Indonesia untuk memasuki Rumah Betang Toyoi. Fakta menarik dari penghuni asli rumah Betang Toyoi tersebut adalah adanya tiga agama yang hidup serumah di dalamnya. Nilai-nilai seperti inilah yang akan menjadi bekal saya untuk dibagikan di sekolah🙂. Selain nilai kerja sama dan kreativitas dalam membangun rumah Betang tanpa pasak dan sumbu dengan kayu-kayu ulin terbaik yang didatangkan dari bermacam bukit.

Angkat fedora untuk panitia yang telah mengangkut keperluan logistik kegiatan ini. Padahal jalan menuju lokasi cukup curam, bahkan salah satu bis yang ditumpangi peserta mogok. Kami berdua pun membayangkan bagaimana hebatnya masyarakat asli yang setiap hari bergelut dengan keterbatasan fasilitas ini; tanpa listrik, tanpa sinyal, tanpa jalan yang mulus. Meski kondisi desa cukup terisolasi, Bapak Ahman Sya (utusan dari Kementerian Ekonomi Kreatfi) dan Bapak Joni Purba (utusan dari Kementerian Lingkungan Hidup) menyempatkan diri hadir dan memberikan sambutannya. Cukup melegakan, semoga dukungan pemerintah untuk kegiatan semacam ini adalah yang pertama dan berkelanjutan.

IMG_2762 JP, AS, Bupati, Ketua Aman, Wabup

Ternyata hadiah terbaik untuk kami para pelancong dalam kegiatan ini belum usai. Keesokan harinya kami disuguhi oleh tiga macam tarian sekaligus. Bukan main, para penari membawakan tarian yang mempu menyihir mata dan menegakkan bulu kuduk ratusan peserta kegiatan. Bukan hanya penari yang memegang peran disini, para pemain musik yang energik pun menambah kenikmatan tontonan berharga ini. Definisi perempuan Dayak yang berparas cantik saya temui kebenerannya melalui tarian-tarian ini.

  Tari1 musikusnya

Cantik1 formasi1

Semua foto, video, obrolan, dan catatan perjalanan sudah dapat dipastikan akan menambah kekayaan dan kedalaman materi untuk membelajarkan siswa pada budaya Dayak. Terima kasih Kang Lukman A. Sya, terima kasih masyarakat Tumbang Malahoi. Izinkan saya membawa semangat ini ke dalam kelas.

Lukman A. Sya

7 comments on “Indehoi di Tumbang Malahoi

  1. hendri
    20 Oktober 2015

    salam kenal… saya tertarik untuk pinjam foto yang terakhir (no8)… bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan atau meminjamnya? Trims!
    081212793201 (please call me)

  2. renoparay
    29 Mei 2013

    Reblogged this on Reno Paray Official and commented:
    I love this post a lot

  3. renoparay
    29 Mei 2013

    mantap banget kang… sayangnya saya tidak berada di kampung halaman (Tumbang Malahui) saat momen itu… bagaimana kesan selama di Tumbang Malahui kang?

    • Panji Irfan
      14 Juni 2013

      He.. Menyenangkan. Sungainya berarus deras di daerah Tumbang Talaken, pohonnya masih rimbun-rimbun, dan hidup sangat sederhana. Disana masih banyak pemeluk HIndu Kaharingan, jadi benda-benda khas seperti sepundu, sandung, betang masih bisa kita lihat. Terima kasih silaturahminya🙂

      • renoparay
        14 Juni 2013

        iya… tapi keindahan yang sekarang masih belum bisa menyamai keindahan alam beberapa tahun yang lalu.. dulu warna air sungai tidak seperti itu, pasir di bawah air masih kelihatan.. sekarang airnya keruh dan rusak gara2 perusahaan2 pertambangan dan pertambangan masuk.. miris ngeliatnya. tapi saya tetap kangen sama kampung kelahiran saya.

      • Panji Irfan
        1 Juli 2013

        Oh, sayang sekali ya.. he..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Goodreads

Keren Tanpa Rokok

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

kontak via fb

Arsip

Kategori

Pengunjung

  • 86,552 orang

Sedang Berkunjung

%d blogger menyukai ini: