Sedang Belajar

: belum tahu di pedas lada (belum berpengalaman)

Menghadirkan Mas Paimo di Dalam Kelas

Cover Puisi Mas Paimo

Apa yang diingikan Bambang Hertadi Mas ketika memutuskan untuk bersepeda sendirian ke Pegunungan Andes? Sederhana, “Meditation Journey,” tulisnya dalam buku berjudul Bersepeda Membelah Pegunungan Andes.

 

Pak Bambang yang akrab disapa Mas Paimo adalah legenda bersepeda solo jarak jauh di Indonesia. Beliau pernah menuliskan pengalamannya bersepeda di benua-benua lain secara berseri di majalah Intisari sejak tahun 1980-an, namun saya-terus terang-baru mengenal sosok beliau dari buku mengasyikkan ini. Benar-benar sebuah keterlambatan, mengingat saya dan tempat tinggal beliau berasal dari kota yang sama.

Tapi faktor keterlambatan utama yang  disesalkan adalah siswa jadi ikut terlambat mengenal sosok beliau. Padahal  profil dan laporan petualangan beliau di buku ini, bisa dijadikan sebagai sumber belajar bahasa Indonesia tingkat SMP. Materi yang mengakomodir, pemanfaatan buku ini adalah Menganalisis Laporan, Menulis Laporan, Membacakan Laporan, Menulis Buku Harian, juga Menulis Puisi (ada beberapa puisi yang digunakan sebagai ilustrasi memasuki bab-bab baru dalam buku.)

Beberapa siswa yang rumahnya cukup jauh dari sekolah (hingga 1,5 jam), sedikit terhibur dengan meneladani Mas Paimo yang setiap harinya menempuh rata-rata 100 km dengan suasana alam yang tidak seramah tanah air. Siswa-siswa lain yang rumahnya lebih dekat rumahnya dari sekolah tentu saja harus lebih berbahagia datang ke sekolah.

Buku ini berisi pengalaman rinci beliau disertai dengan badai kesulitan yang menyambutnya di setiap tempat. Beliau memulai petualangan dari La Paz, Bolivia dan mengakihirinya di Punta Arenas, Chili. Kepakaran Mas Paimo terlihat dari detail yang dituliskan dalam buku ini, Saya pun sebagai pembaca memerlukan beberapa kali pengulangan terhadap bacaan karena tidak siap dengan derasnya hal baru yang dituliskan mayoritas dalam bahasa Spanyol. Namun inti semangat dari membaca buku ini adalah semangat memperbaiki diri tanpa henti. Masih ingat bagaimana berkelebatan tabiat saya yang sulit mengaktualisasi diri atau memperbaiki bahan belajar yang akan diberikan pada siswa setiap tahunnya.

Bagi saya, tentu saja perbaikan perangkat belajar minimal dilakukan setiap tahun. Oh, pastinya sangat melelahkan hal perbaikan-perbaikan ini. Namun, tentu saja yang saya lakukan masih jauh panggang dari api, tinimbang yang dilakukan Mas Paimo menempuh jarak sekira 5.600 km dalam waktu 2 bulan. Itu berarti target rata-rata jarak yang ditempuh perhari adalah 100 km. Penting diingat pula, petualangan ini dipersiapkan dengan matang dan detail selama 8 tahun. Nah, seberapa masak dan berproses persiapan yang saya lakukan untuk mencerdaskan anak bangsa? Hal menarik lainnya adalah sepeda beliau yang digunakan adalah sepeda “murah”, bukan sepeda yang berharga puluhan juta. Ini fakta harmonis dengan kuatnya nafsu pemerintah mengaplikasikan kurikulum 2013. Bagi kami, guru-guru di pelosok, kami akan fokus pada peningkatan kemampuan diri sendiri bagaimanapun caranya. Itu saja. Terima kasih Mas Paimo.

sumber foto : 1, 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Goodreads

Keren Tanpa Rokok

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

kontak via fb

Arsip

Kategori

Pengunjung

  • 86,515 orang

Sedang Berkunjung

%d blogger menyukai ini: