Sedang Belajar

: belum tahu di pedas lada (belum berpengalaman)

Untuk Indonesia yang Lebih Kuat (perspektif finansial)

Berminggu lalu, saya lumayan kaget ketika membaca status sekretaris IGI (Ikatan Guru Indonesia) Bapak Mohammad Ihsan yang menyatakan bahwa PNS tidak boleh melakukan kegiatan berbisnis.  Begini redaksi status beliau yang saya kutip pada tulisan ini, “PNS DILARANG BERBISNIS. Sesuai PP No 6/1974, PNS tidak boleh melakukan usaha di luar pekerjaannya. PNS gol III/D ke bawah boleh berbisnis seizin Menteri atau pejabat berwenang, yang gol IV/A ke atas tidak boleh (Detikcom, 28/2) ==> PNS mikir lebih baik mentok III/D asal boleh nyambi, ketimbang IV/A, gaji naik cuman dikit, tapi dilarang berbisnis, hehe. Harusnya silakan saja PNS berbisnis, asal halalan thayyiban…”

Kenapa PP tersebut diwacanakan? Karena dari data rilisan dari ICW, tindak pidana korupsi banyak dilakukan oleh PNS! Saya sebenarnya adalah guru swasta yang tidak terikat dengan peraturan tersebut. Dan jika ditanya mengenai keberpihakan, maka saya tak punya kedalaman data untuk mendukung atau tidak mendukung peraturan pemerintah tersebut.

Saya hanya memikirkan solusi lain yang mungkin bisa dilakukan (khususnya oleh guru). Saya lantas teringat buku bagus berjudul Untuk Indonesia yang Kuat  (100 Langkah untuk Tidak Miskin) karangan Ligwina Hananto. Diksi “kuat” dan “miskin” dalam judul ini berada dalam koridor finansial. Daya pikat utama buku ini adalah ide besar untuk membuat kelas menengah di Indonesia bersatu dan menguat dalam rangka menjadi roda penggerak kemakmuran negara. Namun sebelum mengemukakan ide besar ini, penulis mengemukakan banyak argumen dan sajian data yang menunjang pelbagai konsep Indonesia kuat.

Definisi Kelas Menengah

Buku ini memuat pengertian kelas menengah yaitu seseorang yang bisa makan tiga kali sehari, tidak kebingungan dengan  untuk tidur malam ini. Golongan ini belum tentu punya uang tapi mereka tidak melarat. Tentu definisi lain pun banyak tersaji, misalnya menurut A.C. Nielsen golongan menengah memiliki penghasilan rata-rata Rp. 63.000.000 per tahun. Nah, menurut hemat saya, profesi guru berada di kelas menengah (semoga guru honorer pun segera masuk dalam golongan ini, amin :D) jika menilik pada dua definisi ini. Buku ini berisi enam bab yang berisi penyajian data dan tips mudah untuk dipraktikkan. Saya pribadi yang tidak memiliki latar belakang keilmuan ekonomi dengan cukup mudah dapat menelusuri informasi yang disajikan buku ini. Selain itu penataan tulisan, ilustrasi, dan penyertaan contoh-contoh keseharian semakin menambah kemenarikkan buku ini.

 

Bagian yang  saya cukup gemari pada buku ini adalah

1. Fakta bahwa inflasi itu dapat dihitung dan ditelusuri, kisarannya adalah 10-12,5%. Dengan fakta seperti ini maka menabung secara pasif tentu saja tidak akan mencukupi karena inflasi akan selalu lebih tinggi daripada bunga atau bagi hasil bank. Poin ini mengingatkan kita bahwa golongan menengah yang tidak siap dengan dinamika masa depan akan menjadi golongan menuju miskin atau golongan miskin bahkan.

2. Selanjutnya hal yang dirasakan cukup bermanfaat adalah perhitungan pengelolaan uang untuk masa mendatang hingga pensiun. Saya, cukup tercengang dengan kenyataan bahwa perlu miliaran rupiah untuk menyiapkan dana pensiun, namun setelah menelusuri argumentasi Ibu Ligwina Hananto, saya pun menyetujuinya, dan nominal miliaran rupiah tersebut menjadi masuk akal. Beliau pun memberikan gambaran banyaknya orang yang bekerja hingga tua untuk menutupi biaya hidupnya. Bekerja hingga tua (usia pensiun) boleh dilakukan namun dalam rangka hobi atau kegemaran bukan dalam rangka mencari nafkah.

3. Activate your money. Klausa ini mengajak kita mengubah paradigma mengenai uang dan pengelolaannya. Buku ini dipandu pula dengan daftar periksa 100 langkah rencana aksi keuangan yang mengarahkan kita agar merdeka secara finansial. Jangan biarkan uang kita menjadi uang yang pasif dan tidak memberdayakan. Sekecil apapun uang yang dikelola dengan baik dan diaktfikan akan menjadi jalan rezeki bagi orang lain.

Barangkali tulisan saya membuat pembacanya semakin kebingungan dengan berbagai kesimpulan yang keliru dari saya. Untuk informasi lebih lengkap dan bermakna silakan kunjungi link qm financial atau halaman facebooknya. Saya berharap dengan terpaan naiknya harga BBM kita masih bisa bertahan, bersyukur, dan bertawakal kepada Tuhan.


4 comments on “Untuk Indonesia yang Lebih Kuat (perspektif finansial)

  1. Ping-balik: Untuk Indonesia yang Lebih Kuat (perspektif finansial) « NUSWANTORO

  2. bmaster23
    24 Maret 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 22 Maret 2012 by in Bahan Belajar, Buku, Pendidikan, Sekolah Eksternal and tagged , , .

Goodreads

Keren Tanpa Rokok

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

kontak via fb

Arsip

Kategori

Pengunjung

  • 86,515 orang

Sedang Berkunjung

%d blogger menyukai ini: