Sedang Belajar

: belum tahu di pedas lada (belum berpengalaman)

Ikhtisar Presentasi “National Conference Future Teachers, Future Leaders” (1)

Pemateri pertama pada kegiatan konferensi nasional yang dilaksanakan oleh Sampoerna School of Education tanggal 26-27 Oktober 2011 di Jakarta adalah Sheldon Shaeffer.

Beliau adalah pakar pendidikan dengan lingkup kerja dunia, Asia, dan juga Asia Tenggara. Materi yang beliau sajikan berbicara mengenai PAUD, UN, kinerja guru, dan sekolah. Kata-kata kunci yang masih bisa saya catat adalah:

1. Sekolah harus menjemput bola pada komunitas masyarakat. 2. Mengapa DO hanya berlaku untuk siswa, sedangkan guru terbebas darinya? 3. SD kelas 1 harus bernuansa TK pada awal-awal kelasnya (di Singapura dan Filipina, SD memiliki program adaptasi pada beberapa bulan pertama). 4. Kemajemukan siswa harus diterima dengan baik (di Thailand, salah satu SD terbaik mereka malah mewajibkan sekolah menampung 10% siswa berkebutuhan khusus dari total populasi siswanya).

Alisson V. Thachray

Beliau adalah praktisi PAUD di Indonesia, lantas mendirikan PT. Starlight Edutainment. Dari nama perusahaan yang didirikannya cukup tergambar bagaimana visi beliau yang benar-benar serius untuk bermain. Tiga kendala utama pada lembaga PAUD yang telah dipelajari hampir di seluruh wilayah Indonesia yakni; tidak mengetahui perkembangan anak, tidak tahu tujuan pembelajaran, dan tidak mengetahui cara mengajar anak. Presentasi Ibu Alisson dapat dikatakan sebagai yang paling ekspresif karena beliau sempat memeragakan gaya guru TK galak di IndonesiašŸ™‚.

Richard Paulsen.

Pengalaman menarik di berbagai lembaga yang mewadahi pendidikan telah membuatnya melanglang buana ke berbagai negara.

Data yang menarik bagi saya adalah ketika beliau menyajikan data mengenai TIMMS dan PISA yang paling baru yaitu tahun 2009. Sayang, saya terlalu lambat untuk mencatat detail nilai yang tersaji untuk Indonesia, Ada di posisi berapakah? Apakah sudah cukup baik? Apakah terjadi peningkatan?Ā Dari grafik yang sampaikan oleh beliau Indonesia Indonesia berada di rangking ke-57 dari 65 tapi berita baiknya adalah kita menunjukkan peningkatan meskipun belum signifikan. Cuma peningkatan itu memang masih dalam level yang belum menggembirakan. Berita baik lainnya Indonesia cukup terbuka dengan bersedia untuk didaftarkan dalam penilaian ini karena banyak juga negara yang memilih untuk tak mengikuti program ini.

Kata kunci dari presentasi beliau adalah guru yang baik dapat memberikan efek signifikan kisaran 30%-40% terhadap keberhasilan siswa.

Masatgusu Murase

Beliau bekerja untuk JICA yang telah bekerja dengan kemendiknas untuk pengimplementasian Lesson Study dan juga program PELITA (peningkatan kualitas SMP/MTs).

Hal menarik dari presentasi beliau adalah mengenai Lesson Study yang merupakan salah satu resep Jepang berhasil memajukan negaranya. Jika lebih difokuskan lagi, saya sangat tertarik bagaimana nama Mojyu Yodogawa (1919) guru SD Nagano tercatat sebagai salah satu guru pelopor kegiatan Lesson Study.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 30 Oktober 2011 by in Pendidikan, Sekolah Eksternal and tagged , , , , .

Goodreads

Keren Tanpa Rokok

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

kontak via fb

Arsip

Kategori

Pengunjung

  • 86,515 orang

Sedang Berkunjung

%d blogger menyukai ini: