Sedang Belajar

: belum tahu di pedas lada (belum berpengalaman)

Hasil Bacaan A Thousand Splendid Suns

 

(Hati pria berbeda dengan rahim ibu, Mariam. Rahim tak akan berdarah ataupun melar karena harus menampungmu. Hanya akulah yang kaumiliki di dunia ini, dan kalau aku mati, kau tak akan punya siapa-siapa lagi. Tak akan ada siapa pun yang peduli padamu. Karena kau tidak berarti!

Kalimat itu sering kali diucapkan ibunya setiap kali Mariam bersikeras ingin berjumpa dengan Jalil, ayah yang tak pernah mengakuinya sebagai anak. Dan kenekatan Mariam harus dibayarnya dengan sangat mahal. Sepulang menemui Jalil secara diam-diam, Mariam menemukan ibunya tewas gantung diri.

Sontak kehidupan Mariam pun berubah. Sendiri kini dia menapaki hidup. Mengais-ngais cinta di tengah kepahitan sebagai anak haram. Pasrah akan pernikahan yang dipaksakan, menanggung perihnya luka yang disayatkan sang suami. Namun dalam kehampaan dan pudarnya asa, seribu mentari surga muncul di hadapannya.)

Tiga paragraf di atas adalah pengantar cerita dan intisari buku yang ditulis pada bagian belakang cover novel. Bagi saya yang jarang membaca buku, tulisan tersebut cukup mengundang saya untuk segera membaca keseluruhan kisahnya.

Novel ini adalah karya Khaled Hosseini, penulis novel sukses The Kite Runner (2003), novel perdana yang menggambarakan kepiawaian Khaled. Pada karya sebelumnya  itu beliau mendapatkan penghargaan Humanitarian Award pada tahun 2006 dari UNHCR (lembaga PBB yang menangani masalah para pengungsi). Di novel keduanya ini Khaled menunjukkan kepiawaian yang sama dengan latar tempat yang sama Afghanistan pada kisaran tahun 1980-1990-an.

Tokoh utama dalam novel ini adalah Mariam dengan tokoh pembantu seperti Nana (Ibunda Mariam), Jalil (Ayahanda Mariam), Rasheed, Laila, Tariq dan masih banyak lagi (saya lupa :)). Novel ini bagi saya memiliki bagian awal yang sangat memikat. Kisah Mariam kecil yang tinggal di suatu bukit terpencil (Gul Daman) karena tak diakui Jalil. Nana yang bermata juling (mantan pembantu rumah tangga di keluarga Jalil) mengeluarkan kekecewaan dan kemarahan terhadap perlakuan tak adil ini dengan mengatakan banyak hal di hadapan Mariam. Jalil sebagai ayah kandung Mariam hanya berkunjung setiap pekan ke gubuk pengasingan itu, Jalil yang menyayangi Mariam disandera oleh rasa malu dan tekanan dari tiga istri lainnya di rumah megah mereka. Cerita ini semakin menyita perhatian setelah Nana meninggal setelah Mariam nekat mengunjungi alamat Jalil di kota. Jalil sendiri ketika dikunjungi oleh Mariam, pura-pura tak ada di rumah meskipun Mariam telah menginap semalaman di pelataran rumahnya persis gelandangan. Ketika pulang Nana telah wafat dengan gantung diri.

Setelah hidup sebatang kara, Jalil bersedia menampung dan merawatnya di bawah komando para istrinya. Hidup terasing Mariam belum berhenti, kecintaan dan kepercayaan pada ayahnya pun berbalik menjadi sebuah kekecewaan setelah Jalil memutuskan menjodohkan Mariam dengan seorang tukang sepatu dari Kabul bernama Rasheed. Mariam yang menerima dengan pasrah semua keputusan terhadapnya, benar-benar akan hidup dengan suami yang tak pernah diinginkan oleh banyak perempuan di dunia. Keburukan perlakuan Rasheed memuncak setelah Mariam yang dinikahi bertahun-tahun tersebut tak kunjung memberikan keturunan.

Rasheed menabur garam pada luka di hati Mariam dengan menikahi Laila-gadis yang ditolongnya ketika ia nyaris mati dalam sebuah ledakan hasil baku tembak pasukan Taliban. Mariam yang merawatnya dengan telaten tak menyangka bahwa Laila yang berselisih usia puluhan tahun dengan Rasheed akan dinikahi. Laila sendiri adalah tetangga mereka! Aziza akhirnya memberikan Rasheed dua orang anak bernama Aziza (anak bersama Tariq) dan Zalmai (anak bersama Rasheed). Kondisi Afghanistan yang semakin memburuk karena perang membuat kelaparan dan kemiskinan melibas semua harta kekayaan Rasheed.

Akhir dari novel ini adalah ketika Mariam membunuh Rasheed karena melindungi Laila, Aziza, dan Zalmai dari perlakuan jahat Rasheed. Mariam pun divonis dengan hukuman mati, namun Laila dapat melanjutkan hidup dengan labih baik dengan Tariq yang pada akhirnya menjadi suaminya. Bagian akhir surat ini pun memuat surat penyesalan yang indah Jalil yang telah menyia-nyiakan Mariam.

Pesan utama dari buku ini bagi saya adalah;

1. Seberat-berat penderitaan akan menemui titik cerahnya.

2. Pengorbanan yang tulus akan berbuah banyak kebaikan.

3. Perang hanya menyisakan penderitaan dan menumbuhkan kesedihan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 14 September 2011 by in Buku, Novel, Sastra and tagged , , .

Goodreads

Keren Tanpa Rokok

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

kontak via fb

Arsip

Kategori

Pengunjung

  • 86,515 orang

Sedang Berkunjung

%d blogger menyukai ini: