Sedang Belajar

: belum tahu di pedas lada (belum berpengalaman)

Lebih Berdaya karena Sanggar Sastra Cangkir

Pelajaran mengenai drama tersebar di kelas 8 dan 9 SMP. Materi drama tersebut tersebar dengan aneka kegiatan seperti menulis, mendengar, membaca, dan berbicara (memainkannya). Setelah tiga tahun bekerja di sekolah ini dan mengajarkan materi tersebut. Saya masih merasakan kesulitan yang sama ini tetap melekat. Kesulitan-kesulitan tersebut mengerucut pada kesimpulan bahwa drama adalah asing bagi peserta didik disini. Berikut alasan-alasan yang mendasarinya.

1. Tidak adanya tempat pementasan drama resmi yang dibuat oleh pemerintah. Gedung pementasan terdekat berjarak 300 km dari sekolah kami ke Palangka Raya -Ibu Kota Provinsi Kalteng. Itu pun tak setiap bulan ada kegiatan pementasan drama, tari, dan budaya. Jujur saya langsung merindukan CCL, sebuah tempat pergelaran kesenian yang diperuntukkan untuk masyarakat umum. Tempat ini secara gagah dikonsep oleh Kang Iman Soleh dan sejawatnya. Di tempat ini telah hadir banyak seniman, termasuk senimanCapoeria dari Brazil hingga almarhum W.S. Rendra.

 

2. Kegiatan peringatan kemerdekaan atau hari nasional lainnya jarang diisi dengan pementasan drama. Biasanya sajian utama peringatan hari besar tersebut adalah aneka lomba dan panggung hiburan berupa pergelaran musik.

3. Adanya kecenderungan berpikir dari peserta didik bahwa drama itu sesuatu yang tak menyenangkan dan bermanfaat.

Saya sendiri sebagai guru kehilangan inspirasi untuk mengajarkan materi drama karena kurangnya ilmu dan pengalaman. Pengalaman bermain drama yang cukup serius cuma didapat ketika berkuliah. Dari ketiga kali pelaksanaan drama ketika kuliah itu, saya selalu mengisi pos penata suara. Tugas tersebut tentu bukanlah tugas “inti” dalam sebuah pementasan drama tanpa mengecilkan fungsi penata suara.

Namun, alhamdulillah tantangan-tantangan tersebut mendapat solusinya. Titik cerah tersebut mulai bersinar ketika ada seorang ahli medis (bagian lab) di daerah kami yang bernama Pak Irfan. Beliau menjalin bekerja sama dengan Pak Nuri (tenaga sekuriti sekolah) membuat sanggar sastra nonformal di daerah tempat tinggal kami di Desa Terawan, Kabupaten Seruyan Kalimantan Tengah. Para siswa dengan inisiatifnya sendiri banyak yang menjadi anggota klub teater tersebut, hal ini beralasan karena daerah ini lumayan terisolasi dan kekurangan alternatif kegiatan positif untuk anak-anak.

Kiprah Sanggar Sastra yang dinamai “Cangkir” ini lumayan aktif karena mereka telahmanggung di kegiatan Peringatan Sumpah Pemuda, Peringatan Hari Buruh, Peringatan Hari Anak, Peringatan Kemerdekaan, dan kegiatan perpisahan sekolah. Adanya anggota Sanggar Sastra Cangkir di dalam kelas tentu mempermudah adanya model sebagai penguat makna pembelajaran di kelas. Rasa terima kasih saya terhadap kegiatan memberdayakan ini adalah dengan meminjamkan referensi terbatas yang saya miliki. “Untuk latihan olah rasa,” ujar Faisal (murid sekolah & anggota Sanggar Sastra Cangkir) beberapa bulan lalu meminjam antologi puisi Negeri Daging, Mustofa Bisri.

Saya tak bisa banyak berkata-kata. Saya mengucapkan terima kasih pada Sanggar Sastra Cangkir!

Sumber foto: Kang Iman SolehAnak-anak in actionNegeri Daging Cover

2 comments on “Lebih Berdaya karena Sanggar Sastra Cangkir

  1. Panji Irfan
    12 Agustus 2011

    Senangnya jika anak-anak menyenangi pelajaran tersebut. Bapak masih belajar membuat materi drama digemari siswa. Terima kasih doanya Lia semoga sukses dengan kegiatan sekolahnya!😀

  2. Lia Af
    12 Agustus 2011

    Disekolah, khususnya di kelas ku,kalau pelajaran seni budaya / b.indonesia materi nya drama, anak2 pada antusias bget. Wah, pak, akting nya nggak kalah sama bintang film kampiun deh. Hehe. Sukses slalu buat bpk! Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 3 Agustus 2011 by in Drama, Helo Borneo, Pendidikan, Ruang Kelas, Sastra, Sekolah Eksternal, Seruyan, Testimonium and tagged , , , .

Goodreads

Keren Tanpa Rokok

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

kontak via fb

Arsip

Kategori

Pengunjung

  • 86,515 orang

Sedang Berkunjung

%d blogger menyukai ini: