Sedang Belajar

: belum tahu di pedas lada (belum berpengalaman)

Reportase Perjalanan dan Film 127 Hours

 

Aron Ralston adalah seorang pria yang soliter dan mandiri (disebut agak sombong juga bisa karena setiap dia pergi dia tak pernah memberi kabar pada siapa pun)🙂. Itu adalah kesimpulan awal yang dapat diambil dari seorang tokoh di permulaan film ini. Saya bukan kritikus film yang mengerti kompleksitas pembuatan fillm, namun saya sungguh menikmati sajian sinematografi film ini dari mula hingga akhir. Di bagian awal film disajikan mozaik hiruk-pikuk hidup di areal perkotaan dan di bagian akhir ada potret dari keluarga, saudara, dan teman Aron yang sedang berkumpul dan tersenyum sebagai pamungkasnya. Sebagai tambahan jika anda suka grup musik Sigur Ros maka anda akan semakin terhibur dengan ending film yang klise namun tetap bermutu. Dari segi cerita, film ini cukup sederhana tahapan alurnya sehingga mudah dipahami oleh orang awam sekalipun. Sedikit kejutannya adalah petulangan Aron menyusur ngarai-ngarai Colorado tiba-tiba harus berakhir (setelah ia bertemu dengan dua perempuan kawan barunya, sesama pecinta alam/canyoneering). Ketiba-tibaan itu adalah ketika Aron Ralston memasuki sebuah celah; kakinya dibentangkan ke tepian celah menopang badan, dan tangannya mencari tumpuan pada sebuah batu besar. Rupanya batu besar tersebut labil-jatuh bersamaan dengan Aron-dan langsung menimpa pergelangan tangan kanannya.

 

Saya cukup terkejut karena peristiwa klimaks di film ini telah terjadi di menit ke-16 dari 180 menit durasi film. Saya berburuk sangka bahwa film ini akan kehabisan bahan cerita selanjutnya dan akan berakhir anti klimaks. Sedikit informasi, film 127 Hours ini menceritakan kisah penaklukan suatu rintangan tak terduga meski dengan jalur yang paling sulit sekalipun semisal amputasi tangan. Namun rupanya sangkaan tersebut keliru karena kepiawaian sang aktor James Franco yang berhasil menghidupkan cerita film dengan halusinasi, daya tahan, dan semangatnya untuk tetap hidup. Keotentikan gambar ketika Aron mencoba melepaskan tangannya pun benar-benar dramatis!

Lantas mengapa film ini dibuat resensinya? Hal ini berhubungan erat dengan keterpakaiannya dalam pelajaran yang saya ampu. Di pelajaran bahasa Indonesia ada materi mengenai laporan/reportase (menulis, membacakan, menganalisa). Jujur, saya seringkali mengajarkan materi laporan dengan hambar, tidak kontekstual, tidak menyenangkan, tidak melibatkan emosi (malang benar peserta didik saya). Saya berharap pertemuan berikutnya dengan materi ini dapat lebih bermakna & memberdayakan dengan bantuan tayangan sekilas film ini di dalam kelas. Apalagi dengan ending di film itu yang menuliskan bahwa “Setelah peristiwa itu Aron selalu menuliskan jurnal perjalanannya.” Ya Allah, ya Tuhan kami jadikanlah niat dan pekerjaan ini berada di koridormu, amin😀.

2 comments on “Reportase Perjalanan dan Film 127 Hours

  1. Ery Ariyanti
    27 September 2011

    Suka,,

    Apakah ada buku yg berjudul sama dengan film tersebut????

    • Panji Irfan
      29 September 2011

      Maaf mengenai bukunya belum tahu Bu Ery, he.. Tapi kisah Aron Ralston ini telah dibuat film dokumenternya (judulnya Life or Limbs). Film dengan perspektif narasumber yang mengenal langsung Aron, seumpama keluarga, teman, dan regu penolongnya. Film dokumenternya ini diterbitkan Discovery Channel dengan harga terjangkau. Dapatkan di toko terdekat he..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 23 Juli 2011 by in Adagium, Bahan Belajar, Film, Pendidikan, Ruang Kelas and tagged , , , , .

Goodreads

Keren Tanpa Rokok

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

kontak via fb

Arsip

Kategori

Pengunjung

  • 86,515 orang

Sedang Berkunjung

%d blogger menyukai ini: