Sedang Belajar

: belum tahu di pedas lada (belum berpengalaman)

Menyalakan Harapan

Kemarin malam ada rezeki yang besar yang dilimpahkan. Rezeki tersebut adalah kesempatan menikmati ilmu dan pengalaman yang disajikan oleh Pak Anies Baswedan. Beliau berbagi dalam acara Kongres I IGI Gerakan Guru Melek Internet, kegiatan ini berlangsung dari tanggal 21-23 Juni 2011.

Pak Anies Baswedan tampil memukau dan menginspirasi meski tanpa slide presentasi yang mencolok, namun kekuatan susunan kata yang disampaikan benar-benar dahsyat. Beliau menantang para guru agar mampu memberikan materi yang membuat siswa berdaya saing dan menjadi pemain dalam kehidupan kita sebagai warga negara dunia. Kata-kata kunci pembicaraan beliau terletak pada kemampuan membaca depan dan mengantisipasinya.

Ilustrasi yang dapat dijadikan hikmah adalah kisah Daerah Istimewa Yogya yang berhasil mengantisipasi keadaan darurat Indonesia karena ketiadaan ibukota. Akhirnya Yogya mengajukan diri menjadi Ibukota sementara Indonesia, nah berkat kebijakan ini Yogya akhirnya berkembang dengan pesatnya sampai memicu pemberian gelar kota pendidikan berkat eksistensi Akmil dan UGM.

Ilustrasi pengalaman dan pengetahuan selanjutnya lebih bersilang sengkarut dengan tema Kongres Guru Melek Internet. Kisah memukau selanjutnya adalah kondisi kebahasaan masyarakat di Jepang. Kita sudah mengetahui bagaimana sikap bangsa ini yang adiluhung dalam menjaga kemurnian tradisinya, termasuk bahasa salah satunya, contoh kekukuhan bangsa Jepang dalam berbahasa yang menyebut ice juice menjadi itsu jutsu, semua bahasa asing serba diadaptasi menjadi bahasa Jepang.

Masyarakat Jepang yang melek teknologi dan internet ternyata tak benar-benar mengglobal dikarenakan mereka hanya melakukan komunikasi dengan masyarakat Jepang di areal lainnya. Mengapa demikian? Karena memang belum mengantisipasi pentingnya memahami bahasa global; bahasa Inggris.

Pertemuan diakhiri dengan sikap khas Pak Anies. Optimisme! Buta huruf di India sekira 30% dari jumlah penduduknya, penduduk buta huruf di India adalah keseluruhan jumlah penduduk di Indonesia. Selanjutnya adalah kita harus belajar pada para pemimpin Indonesia terdahulu yang penuh rasa optimis untuk memerdekakan dan membangun Indonesia, padahal ketika itu masyarakat Indonesia tingkat buta hurufnya adalah 95% dengan kondisi majemuk yang ekstrem. Keelokan sikap penuh harapan tersebut terejawantahkan dengan penamaan menteri permakmuran yang lebih sedap tinimbang menteri percepatan pembangunan daerah tertinggal, “Beri aku satu pemuda, maka aku akan mengguncang dunia!” daripada “Saya prihatin!”

2 comments on “Menyalakan Harapan

  1. JASMANSYAH
    26 Juni 2011

    I liket it

    • Panji Irfan
      27 Juni 2011

      Kegiatan yang menyenangkan ya! Salam untuk Kang Lukman. Nuhun Kang Jasman :)!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 22 Juni 2011 by in Pendidikan, Sekolah Eksternal, Testimonium and tagged , .

Goodreads

Keren Tanpa Rokok

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

kontak via fb

Arsip

Kategori

Pengunjung

  • 86,552 orang

Sedang Berkunjung

%d blogger menyukai ini: