Sedang Belajar

: belum tahu di pedas lada (belum berpengalaman)

Tiga Tahun Bertamu

Minggu 8 Juni 2008. Partai kedua Piala Eropa antara Portugal dan Turki tak selesai ditonton karena pukul empat pagi harus berpamitan pada keluarga menuju Bandara Soekarno Hatta. Bersama beberapa teman, saya diantarkan menuju tempat agen transportasi yang mengantar sampai bandara. Ibu dan nenek saya menangis sembari mendoakan.

Penerbangan pertama menuju Sampit dengan bayang-bayang kisah pilu masa lalu, namun godaan untuk mendatangi Kalimantan tak dapat dibendung. Lantas dari udara terlihat pulau dengan permukaan brokoli hijau yang rapi diselingi kelokan sungai panjang dan tak terduga. Dekat dengan kota, pemandangan brokoli berganti dengan deretan pepohon rapi dan kaku. Alhamdulillah, mendarat di Bandara H. Asan. Cuaca panas, sungai-sungai, jalan-jalan sempit, rumah-rumah kayu, sepundu (semacam totem), belukar lebat, aneka dan sebuah bundaran kota yang dinamai bundaran perdamaian. Kota ini menuju sembuh, masyarakat kedua suku telah berbaur lagi melupakan persitiwa tahun 2001 (berdasarkan buku Iwan Gayo) lalu. Kota ini selalu dipenuhi massa ketika akhir minggu, masyarakat yang memenuhi Sampit adalah masyarakat yang bekerja di perkebunan sawit. Inilah beberapa rutinitas yang mengakibatkan Indonesia menjadi produsen utama penghasil minyak nabati dunia.

Seratus kilometer dari Sampit untuk menuju sekolah, ternyata perkebunan sawit berbeda dengan kondisi alam Gunung Gede Pangrango😀 bodohnya saya. Kebingungan itu terobati dengan pemandangan Danau Sembuluh yang tenang dan lapang. Selanjutnya obat-obat yang membuat saya terkejut adalah

1. Saya menemukan penggemar berat Dave Matthews Band di Sampit. Lagu Proudest Monkey adalah lagu pengiring saya bertamu ke tempat-tempat baru.

2. Saya menemukan siswa kelahiran tahun 1994 yang masih bersekolah di tingkat SD.

3. Saya menemukan siswa yang menggemari komik Detektif Conan dan mengetahui jilid-jilidnya.

4. Juara di di bidang pemanfaatan TIK banyak berasal dari Kalimantan.

Dalam hati hendak belajar budaya Dayak, eh ternyata sub-suku Dayak sampai jumlah 400-an. Walhasil, tak bisa memahami apapun. Bicara mengenai keadaan alam di sini tentu tak sama dengan daerah lainnya sehingga tetap saja saya adalah orang asing meski telah mengunjungi Pusat Rehabilitasi Orang Utan di Pangkalan Bun Kalteng. Ah, tulisan ini benar-benar ngelantur tanpa gambar dan tautan penjelas. Mohon maaf, koneksinya sedang sekarat sepanjang hari ini.

Tiga tahun bertamu mendengar lagu Tiga Hari untuk Selamanya dari Float, telah menonton The Next Three Days pada hari ketiga pernikahan. Menjadi kakak dari tiga bersaudara dan genap bertamu selamat tiga tahun di Kalimantan. Terima kasih atas jamuannya duhai rawa-rawa yang menimbun sepi.

sumber foto: http://www.kaskus.us/showthread.php?p=452821269

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 8 Juni 2011 by in Helo Borneo, Kronik, Testimonium and tagged , , .

Goodreads

Keren Tanpa Rokok

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

kontak via fb

Arsip

Kategori

Pengunjung

  • 86,515 orang

Sedang Berkunjung

%d blogger menyukai ini: