Sedang Belajar

: belum tahu di pedas lada (belum berpengalaman)

Semantik Antik

Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan pedoman kebakuan kata. Kata yang telah bergulir di masyarakat tentu diharapkan sepadan kandungan maknanya dengan KBBI. Lantas, apakah yang terjadi jika kata yang diujarkan para penggunanya tidak sepadan dengan makna tekstualnya? Ah tak apa-apa, tak melanggar hukum. Keperluan saya sebagai guru bahasa Indonesia adalah menjenguk kamus dan mengamati ketepatan penggunaan kata tersebut dalam percakapan. Tujuan utamanya adalah memperluas sudut pandang konflik tanpa menghakimi (apalagi ada hakim “S” yang memerdekakan banyak koruptor).

Berikut ini adalah kata yang bergeser maknanya ketika sampai dalam ranah ujaran masyarakat. Masyarakat yang dimaksud di sini adalah di lingkungan sekolah kami di Kabupaten Seruyan Kalimantan Tengah.

1. Bonceng dalam KBBI mengandung makna ikut naik (kendaraan beroda dua), nah dalam keseharian bonceng ini sering dianggap sebagai sopir.

2. Acuh berarti peduli atau mengindahkan, selama ini acuh sering ditafsirkan sebagai cuek.๐Ÿ™‚

3. Seronok sering dianggap sebagai kata yang memiliki arti seksi, kurang santun, nah dalam KBBI seronok berarti menyenangkan hati; sedap dilihat.๐Ÿ˜€

4. Geming berarti tidak bergerak sedikit juga; diam saja. Jadi kalimat tidak bergeming memiliki makna bergeerak.๐Ÿ˜€

5. Absen menyimpan makna ketidakhadiran, tapi terkadang kata ini digunakan pula untuk menyebut daftar kehadiran siswa.

Sebenarnya lebih banyak lema dalam KBBI yang terasing maknanya, tapi inilah yang baru dapat dihimpun. Sabar ya KBBI, dirimu belum diakrabi masyarakatnya. Apakah versi cetakmu terlalu mahal barangkali?

sumber foto

http://kisaranku.blogspot.com/2009/11/ngobrol-seputar-bisnis-online.html

http://www.imuzcorner.com/download-kamus-besar-bahasa-indonesia/

6 comments on “Semantik Antik

  1. rudy ramdani awal aliruda
    8 Juni 2011

    sedap..

  2. Rudy R. Aliruda
    8 Juni 2011

    ANTIIIK..
    masih banyak kasus kekeliruan semantik yang terjadi di masyarakat. tidak saja pada kalangan awam, banyak pula pada tataran instansi pemerintahan formal.
    INDONESIA..

    • panjiirfan
      8 Juni 2011

      Bung Rudy, saya bukan linguis tapi senang saja jika menemukan sesuatu yang keliru. Hal keliru itu sebagai bahan untuk tersenyum sampai tertawa bagi saya saja๐Ÿ˜€.

  3. Lia Af
    6 Juni 2011

    Yap…Mungkin benar, gara2 harganya. Selain itu, mungkin juga gara2 masyarakatnya yg menganggap KBBI tidak perlu utk di miliki, toh kalo mereka ngomong sehari2 jarang menggunakan b.ind, b.daerah melulu. Jd tak bisa dipungkiri kalau ada banyak terjadi kesalahan maupun ketidaktahuan makna kata. Hm…menurutku gitu,pak! Salam kenal

    • panjiirfan
      6 Juni 2011

      He.. Tapi sekarang KBBI lebih mudah didapatkan dan murah๐Ÿ˜€. Kamus juga penting karena salah satu fungsinya adalah pemersatu bangsa. He.. Kita semua ingin bersatu kan ya? he..๐Ÿ™‚ Salam kenal Lia. Hebat masih muda sudah menulis๐Ÿ™‚.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 5 Juni 2011 by in Bahasa, Ruang Kelas, Semantik, Seruyan and tagged , , , , .

Goodreads

Keren Tanpa Rokok

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

kontak via fb

Arsip

Kategori

Pengunjung

  • 86,515 orang

Sedang Berkunjung

%d blogger menyukai ini: