Sedang Belajar

: belum tahu di pedas lada (belum berpengalaman)

Olahraga, Puisi, dan Kebangkitan Nasional

Teman saya berlangganan siaran stasiun tv luar negeri. Ketika berkunjung ke rumahnya Ia sedang menonton film berjudul Invictus. “Tentang Rugby,” begitu katanya menjelaskan. Teman saya guru olahraga, jadi semua tayangan berbau olahraga akan menjadi prioritas.

Saya tercenung dengan judul fimnya, karena setahu saya Invictus adalah nama label pakaian (distro) yang cukup mentereng di Kota Bandung. Film ini selanjutnya menarik perhatian karena ada Matt Damon dan Morgan Freeman, Morgan berperan sebagai Presiden Mandela dan Matt Damon berperan sebagai Francois Pienaar (kapten tim Rugby Afsel).

Invictus sebagai judul ternyata adalah judul puisi yang ditulis oleh William Ernest Henley (penyair yang mengalami amputasi salah satu kaki karena menderita penyakit yang menyerang tulang ketika kecil). Puisi ini menginspirasi dan menjaga semangat Nelson Mandela yang harus mendekam di penjara selama 17 tahun untuk bangkit memimpin negaranya dari keterpurukan ekonomi dan situasi rasial yang kronis. Invictus berasal dari bahasa Latin yang bermakna “tak terkalahkan.” Sesuai dengan ketangguhan Henley menjalani hidup untuk menjadi penyair klasik Inggris yang berpengaruh.

Olahraga bisa jadi adalah jalan keluar. The Springboks (julukan tim rugby Afsel) diyakini Madiba (nama panggilan Nelson Mandela) sebagai salah satu solusi mempersatukan bangsa. Lantas Madiba memanggil kapten tim Pienaar untuk berdiskusi, mengemukakan harapan-harapan. Meski obrolan tersebut berlangsung di bawah naungan rasa pesimis dari para penasihat pemerintahan, Madiba dan Pienaar telah bersepakat. The Springboks yang berisi para pemain kulit putih berlatih keras sambil diselingi kunjungan ke kawasan permukiman penduduk kumuh, ke Robben Island tempat Madiba menghabiskan belasan tahun hidupnya tersandera. Ketika sampai di sel tempat Madiba mendekam, Pienaar merenung cukup lama di sini dan samar-samar terdengar puisi Invictus dibacakan oleh narator.

Invictus (William Ernest Henley)

Out of the night that covers me

Black as the Pit from pole to pole

I thank whatever gods may be

For my unconquerable soul

In the fell clutch of circumstance

I have not winced nor cried aloud

Under the bludgeonings of chance

My head is bloody, but unbowed

Beyond this place of wrath and tears

Looms but the Horror of the shade

And yet the menace of the years

Finds, and shall find, me unafraid

It matters not how strait the gate

How charged with punishments the scroll

I am the master of my fate

I am the captain of my soul


Perjuangan The Springboks tak sia-sia karena mereka berhasil menjuarai Rugby World Cup tahun 1995 setelah di final mengalahkan tim kuat dari New Zaeland All Black. Keberhasilan tim Rugby Afsel ini membuktikan kepada segenap warga bahwa mereka bisa bangkit dan bersatu meninggalkan tumpukan masalah yang mendera negara. Inilah salah satu alasan kuat mengapa Negara Afrika Selatan tetap dalam kondisi yang kondusif sampai sekarang. Perpaduan antara kerja keras, olahraga, dan puisi menimbulkan kebangkitan nasional di sana.

Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional meski terasa semakin hambar. Hari ini Kongres PSSI dimulai di Jakarta, semoga dapat menjadi langkah awal kebangkitan bangsa, rakyat telah lelah dengan ketidaktulusan para wakilnya. Piala AFF 2010 kemarin cukup menjadi bukti, bahwa semangat dan kecintaan terhadap tanah air masih bergelora. Mari bangkit Indonesia!

Terima kasih Pak Slamet karena telah mengajak menonton.

sumber foto Invictus PosterMadiba & Pienaar

9 comments on “Olahraga, Puisi, dan Kebangkitan Nasional

  1. slamet
    1 Juni 2011

    🙂 trimakasih juga njik… saya malah baru tau kalau itu sebuah puisi.

    • panjiirfan
      1 Juni 2011

      Sama-sama met. Kita berterima kasih sama Henley yang menulis, Madiba yang menghidupkan puisinya, dan Eastwood yang memfilmkan.🙂

  2. Sardiman ndeso
    26 Mei 2011

    Manteplah pak,hehehe..

    • panjiirfan
      26 Mei 2011

      Iya menonton yang asyik-asyik. He.. Terima kasih kunjungannya mas Sardiman!

    • panjiirfan
      27 Mei 2011

      Weleh ini ya om sardiman, he.. hebat. Malu saya sama om.. mudah-mudahan lebih semangat lagi baca tulisnya, he.. makasih om!

  3. panjiirfan
    21 Mei 2011

    Iya, hiburan yang bergizi. He..

    • busye
      21 Mei 2011

      buruan balik tong nyien artikel wae……..

      • panjiirfan
        21 Mei 2011

        hehe… kalem Sye, karyawan kesukaan saya ente teh. he..

  4. alivfaizalmuhammad
    20 Mei 2011

    wah.. perlu segera nonton nih..
    http://alivfaizalmuhammad.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 20 Mei 2011 by in Film, Olahraga, Pendidikan, Puisi and tagged , , .

Goodreads

Keren Tanpa Rokok

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

kontak via fb

Arsip

Kategori

Pengunjung

  • 86,515 orang

Sedang Berkunjung

%d blogger menyukai ini: