Sedang Belajar

: belum tahu di pedas lada (belum berpengalaman)

7/2 Menanggapi Cara Pembacaan Cerpen

Begitulah judul kompetensi dasar sastra kelas 7 di akhir semester ini. Kegiatan proses belajar mengajar materi ini cukup terpapar dengan jelas dari judulnya. Siswa membacakan cerpen lalu cara membacakannya ditanggapi bersama. Siswa notabene belum terlalu akrab dengan cerpen karena belum memadainya buku cerpen dengan jumlah siswa.

Kegiatan pembelajaran dimulai dengan mendiskusikan konsep cerpen dalam ranah sastra. Beberapa pertanyaan kritis mengemuka seperti:

1. Apakah dongeng masuk kategori cerpen?

2. Apa kaitannya cerpen dengan prosa?

3. Apa persamaan dan perbedaan cerpen dengan novel?

4. Apakah ada batasan pendek dan panjangnya cerpen?

Beberapa siswa mulai menunjukkan pemahamannya pada materi dongeng di semester satu dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari temannya tersebut. Kesimpulan kegiatan tanya jawab siswa tersebut adalah:

1. Dongeng merupakan jenis bentuk cerpen klasik.

2. Persamaannya dengan novel adalah unsur intrinsiknya.

3. Perbedaan cerpen dengan novel terletak pada waktu yang dibutuhkan untuk membacanya dan pengembangan unsur intrinsiknya.

4. Batasan termudah suatu cerpen ialah cerpen selesai dibaca dalam satu kali duduk.

Setelah puas berdiskusi seputar konsep cerpen maka selanjutnya membaca cerpen secara bergiliran dengan penekanan pada kata “membacakan” bukan “membaca”. Cerpen yang dibaca berjudul Alunan Cinta Bunda karya Erly Aji Purniawati dan Biar Hancur Tetap Jujur karya Ririn Indah Kurniawati. Kedua penulis tadi adalah kakak kelas mereka sehingga ada semacam antusias tambahan ketika hendak membaca cerpen. Dalam benak adik kelas tujuh ini barangkali muncul pertanyaan seperti, “Apa bagusnya sih cerpen buatan kakak kelasku ini?”, “Bagaimana sih isi cerpen yang masuk nominasi sepuluh cerpen remaja se-Kalteng 2010 ini?”

Kami membacakan cerpen secara bergiliran. Setiap orang membaca dua kalimat dalam cerpen dengan harapan setiap siswa mendapatkan giliran. Cerpen Alunan Cinta Bunda telah selesai dibaca, tak terasa. Tak diduga pula beberapa siswa tampak berkaca-kaca sampai menitikkan air mata. Siswa terenyuh cerita tentang seorang anak perempuan yang tuna netra yang diterlantarkan oleh ayahnya namun tindakan ayahnya tersebut tak membenihkan kebencian pada Kasih Abella (tokoh utama cerpen), mengapa demikian? Karena bunda berhasil mengganti kebencian dengan menumbuhsuburkan cinta pada hati Kasih. Cerita pendek diakhiri dengan terjadinya kecelakaan pada bunda di hari ulang tahun yang mengakibatkan kelumpuhan pada kedua kakinya.  Pilu namun tidak diumbar-umbar.

 

Rehat sejenak untuk mengikat makna. Siswa yang pada awalnya terlihat berat membaca delapan halaman cerpen, tampak (ini masih “tampaknya” belum faktanya) gembira dengan proses membacakan cerpen yang tidak terlalu sulit seperti dugaannya.  Siswa ingin mengenal sosok Erly yang menulis cerpen tersebut. Keharuan bertambah karena Erly sudah delapan tahun tak bertemu ibundanya yang menjadi TKI di luar negeri. “Hei, ternyata bahan untuk menulis cerpen dari hal-hal yang dekat dengan keseharian ya.” Begitu ujaran siswa dalam bahasa Banjar yang telah diterjemahkan.

Ini adalah sepuluh cerpen terbaik remaja (12-17 tahun) se-Kalteng tahun 2010 yang diselenggarakan Balai Bahasa Kalteng. Cerpen Ririn dilombakan ke tingkat nasional meski belum terpilih menjadi yang terbaik. Ini adalah cerpen pertama dari Ririn dengan setumpuk keragu-raguan pada awal penulisannya. Mau ikut lomba tapi merasa karyanya jelek lantas semangat lagi, lantas ragu lagi, dinamis khas anak-anak. Cerpen kedua ini berbeda karakter dengan cerpen pertama. Cerpen ini menyoroti masalah kejujuran dengan latar waktu ketika Ujian Nasional. Cerpen ini mengajarkan suatu nilai namun tidak berkesan menceramahi. Penuturan kisah yang lugas dipenuhi dengan dialog dan tokoh yang hidup dengan keseharian pembaca, membantu penghayatan siswa terhadap cerpen. Siswa terlihat sumringah setelah selesai membacakan cerpen. Siswa yang memiliki kebiasaan “kreatif” dalam ujian terlihat malu-malu mengakui.

Baik, saatnya evaluasi, namun mayoritas siswa meminta sebuah cerpen lagi untuk dibacakan. Alhamduillah masih ada beberapa stok cerpen karya siswa untuk dibaca. Siswa meminta guru memberikan contoh membacakan cerpen. Baiklah, judulnya cerpen yang akan kita baca selanjutnya adalah teng… teng… bel sekolah dua kali berbunyi. Saatnya ganti pelajaran. Siswa berteriak, “yah…” Ririn dan Erly telah memberikan teladan yang baik untuk adik kelasnya. Terima kasih.

2 comments on “7/2 Menanggapi Cara Pembacaan Cerpen

  1. mira
    15 Mei 2011

    jadi ingin membaca cerpen-cerpennya ^^

    • panjiirfan
      16 Mei 2011

      Bisa didownload cerpennya bu dengan mengklik namanya. He…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 15 Mei 2011 by in Ruang Kelas and tagged , .

Goodreads

Keren Tanpa Rokok

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

kontak via fb

Arsip

Kategori

Pengunjung

  • 86,515 orang

Sedang Berkunjung

%d blogger menyukai ini: