Sedang Belajar

: belum tahu di pedas lada (belum berpengalaman)

Catatan Kehidupan Waktu

            Hembusan angin menerpa diri begitupun hangatnya mentari pagi yang menyelimuti tubuh. Sejuta doa menjadi hal untuk mengawali hari ini. Beban dalam pikiran tak seberat hari-hari lalu karena ujian telah berakhir dan hasilnya sudah dapat diketahui.

            Hari ini merupakan hari dimana semua sekolah membuka pendaftaran yang pertama di tahun ini, namun pendaftaran kali ini cukup berbeda dari biasanya. Pendaftaran tahun ini hanya menggunakan nilai UN saja, hal ini mencegah adanya penyogokan dari orang tua murid dan untuk mendaftar hanya dibatasi dalam waktu 4 hari.
            Aku bergegas pergi menuju SMP Negeri 2 Purworejo, sekolah ini memiliki reputasi yang baik dalam prestasi sejak dahulu walau tak sebaik SMP Negeri 3 Purworejo yang sudah berstandar Internasional dan berdiri di Kutoarjo.

            Saat di perjalanan rasa jenuh tak ada dalam lintasan ruang pikiran. Kulihat sekelilingku terdapat bukit yang membentang luas dan dihiasi pepohonan dengan aliran air deras yang jernih di kakinya serta padi-padi di sampingnya.
            Dari kejauhan terlihat anak-anak yang sedang bermain layang-layang sambil menikmati masa liburannya. Masyarakat juga mulai beraktivitas dengan kegiatannya masing-masing. Tampaknya jalan ini sudah mulai ramai dari pengguna mobil, motor, sampai sepeda ontel, ada pula yang berjalan kaki, bahkan angkotpun ikut memadati jalan. Hingga serpihan debu maupun polusi udara dari berbagai kendaraan memenuhi setiap sudut lingkungan ini.
            Saat aku hampir sampai di SMP Negeri 2 Purworejo, tiba-tiba aku merasa indera penciumku terperangkap oleh berbagai sajian hidangan makanan yang cukup menggugah selera.
            Sesampainya disana, terlihat kendaraan-kendaraan yang sudah memadati halaman sekolah. Aku mulai menggerakkan kaki untuk berjalan ke ruangan tempat pengambilan formulir untuk kelas regular, salah seorang guru di tempat itu menyodorkan map merah muda. Tepat di bagian tengah atas tertera sebuah goresan spidol hitam yang bertuliskan ‘Ruang III’.
            Dengan segerakulangkahkan kaki menuju ruang 3, namun betapa terkejutnya hati ini saat aku akan menginjakkan kaki di ruang itu. Ternyata ruangan tersebut penuh dengan para pendaftar beserta orang tua atau wali mereka masing-masing.
            Ketika aku memasuki ruang 3 tersebut, aku segera duduk di bangku depan sebelah kiri. Lalu kubuka map merah muda dengan perlahan, sedikit demi sedikit kugoreskan tinta hitam di atas lembaran kertas putih formulir pendaftaran dengan sangat hati-hati. Namun, tiba-tiba mataku terbelalak dengan penuh kekaguman saat aku melihat SKHU milik anak yang duduk di sebelahku. Sungguh luar biasa ia mendapat nilai UN sempurna, dengan jumlah 30,00 sedangkan aku hanya mendapat 24,80 saja. Paras wajahnya yang cantik, kerlingan matanya yang penuh pesona, rambutnya yang terurai panjang bagai sutera, begitupun dari cara berpakaian maupun dari aksesoris yang dikenakan semua terlihat indah sekali.
            Setelah formulir pendaftaran tersebut telah selesai diisi, kemudian aku menyerahkannya kepada salah seorang guru yang berada di ruangan tersebut. Lalu aku keluar dan menghiru udara bebas, tidak seperti di dalam aku merasa rongga dadaku tertutup sehingga oksigen sulit dihirup. Aku duduk di sebuah bangku yang terletak di bawah pohon dengan memandangi lingkungan sekitar dari sekolah itu dan sambil menuggu hasil sementara untuk hari ini.
            Tak terasa waktu bergulir begitu cepat, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 WIB. Namun, hasil sementara dapat di ketahui pada pukul 13.00 WIB jadi aku harus tetap menuggu 90 menit lagi. Sambil menuggu aku berjalan-jalan untuk melihat bangunan sekitar serta fasilitas yang ada. Waktu terus menyeberangkan diri pada suatu kejadian, hingga hasil sementara akan diumumkan. Walau begitu para pendaftar terus berdatangan. Saat tiba pukul 13.00 WIB hasil sementara sudah dapat diketahui, ternyata namaku masih aman karena tidak berada di bawah garis merah. Nama-nama para peserta yang berada di bawah garis merah dengan terpaksa harus melepaskan injakan kakinya dari sekolah ini.
            Keesokan harinya, seperti hari kemari aku kembali datang di SMP Negeri 2 Purworejo untuk melihat hasil sementara hari ini. Tepat pukul 09.00 WIB, pengumuman sementara sudah dipaparkan di papan pengumuman. Saat dilihat ternyata namaku sudah berada di bawah garis merah.
            Kemudian aku segera melangkahkan kaki menuju SMP Negeri 4 Purworejo yang tak jauh dari sekolah itu, sekolah ini juga tak kalah dalam bidang prestasi bahkan kepala sekolah di SMP Negeri 4 Purworejo yaitu Bapak Muh. Syaifudin M.Pd. menjadi Kepala Sekolah Teladan se-Kabupaten Purworejo.
            Di SMP Negeri 4 Purworejo, ada saudaraku yang bekerja di sekolah itu. Jadi, aku merasa sedikit tumpuan beban dalam diriku terkurangi karena aku tak harus menunggu berlama-lama di sekolah, cukup menunggu kabar dari saudaraku.
            Waktu terus berjalan dan silih bergantian, hingga hari terakhir pendaftaran tiba, tepat pukul 10.00 WIB pintu gerbang pendaftaran sudah ditutup dan dari hasil akhir aku diterima di SMP Negeri 4 Purworejo.
            Haripun silih berganti melangkahkan pada suatu catatan kehidupan yang harus dijalani, sehingga menghantarkanku pada hari pertama untuk dapat menduduki bangku SMP Negeri 4 Purworejo, saat pembagian kelas sementara aku mendapat kesempatan untuk dapat menempati kelas VII B.
            Di kelas VII B tersebut aku bertemu dengan saudara yang dulu pernah menjadi teman sekolah saat di Bekasi yaitu Sindy Mutik Hawari yang akrab dengan sapaan Sindy. Kira-kira sudah 5 tahun silam kami tak bertemu atau berkomunikasi, sehingga saat bertemu terlihat banyak sekali perubahan-perubahan yang sangat drastis, walau begitu pembawaannya yang ceria masih sama seperti 5 tahun yang lalu.
            Saat hari pertama itu pula aku sudah mendapat teman, diantaranya Grafity, Anisa, Melly, Niken, dan Riani. Kami selalu melakukan segala sesuatu secara bersama-sama.
            Suatu kebersamaan yang dapat mengusir kesepian tak seperti yang kuharapkan. Kebersamaan ini hanya berselang beberapa waktu saja, hal ini berakhir saat adanya pembagian kelas tetap untuk regular. Ketika itu aku menduduki kelas VII F, sedangkan Sindy menempati kelas VII B.
            Di kelas VII F aku merasa sendiri dan kesepian. Namun ternyata waktu tak membiarkan hal itu menimpa diri, di hari itu aku menemukan teman baru kembali. Sejak kami mempunyai teman masing-masing dank arena pembagian kelas serta waktu yang mengubah semua ini yang memisahkan, semakin waktu berjalan hal itu membuat aku dan Sindy semakin menjauh.
            Sejak saat itu pula kami tak pernah berkomunikasi kembali bahkan dia tak pernah menyapaku kembali, sepertinya kami memang telah berjalan dalam kesendirian begitu jauh dan melupakan kebersamaan yang pernah dialami.
            Waktu selalu dapat mengubah segalanya, dari kejadian maupun tingkah laku. Inilah yang kurasakan, walau demikian catatan kehidupan yang dialirkan waktu tak berakhir dengan sempurna. Kebersamaan yang telah kuterima dan kususun dengan beribu kasih sayang berakhir padam bagai api terkena air.

(Ririn Indah Kurniawati)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 27 Maret 2011 by in Cerpen Siswa.

Goodreads

Keren Tanpa Rokok

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

kontak via fb

Arsip

Kategori

Pengunjung

  • 86,515 orang

Sedang Berkunjung

%d blogger menyukai ini: