Sedang Belajar

: belum tahu di pedas lada (belum berpengalaman)

Materi dari Siswa

Ririn Indah Kurniawati. Begitu rindu orang tuanya sehingga Ririn tak mau melanjutkan sekolah di Purworejo bersama sang nenek. Orang tuanya yang bekerja sebagai pendulang emas di pelosok Hutan Seruyan Hulu lantas berbenah dan mencari pekerjaan yang memiliki rumah huni.

Alat-alat dulang ditinggalkan dan kedua orang tuanya yang dulu berlangitkan terpal dan cuaca tak terterka kini menjadi pemanen buah kelapa sawit dengan rumah ukuran 6×6 m yang disediakan perusahaan. Ririn tak menaksir bahwa sepi dan terisolasi bakal menjadi kawan karibnya di sekolah baru ini. Tapi rindu tetaplah rindu, dan orang tua adalah kedua cahaya mata hati bagi Ririn. Ya, akhirnya SMP Tunas Agro menjadi sekolah barunya.


Ketika waktu pengambilan raport tiba, tiba-tiba Ririn tercengang dengan peringkat dua yang disandang. Maklum di sekolahnya dulu hanya masuk lima besar. He…. “Ini sekolah relatif lebih ringan persaingannya,” begitu barangkali batinnya. Jadi kita naikkan targetnya dan terpilihlah Ia mewakili sekolah di bidang matematika dalam gelaran Olimpiade Sains Siswa Nasional (O2SN) 2009 di Kabupaten Seruyan. Tak dinyana, level Kabupaten berhasil dipuncaki untuk menjadi wakil Seruyan. So, Palangka Raya here we comes…. Entah apa gerangan. Sudah hampir satu semester belum ada kabar mengenai keberhasilan Ririn. Apa terpilih mewakili tingkat Provinsi atau tidak? Terkatung-katung seperti jembatan desa yang sudah doyong direndam riak anak sungai Seruyan di tikungan depan rumah.

Jadi kita mulai dari awal lagi. Ketika laman Balai Bahasa Kalteng mengumumkan ada sayembara menulis cerpen tingkat remaja tahun 2010 se-Kalteng, maka dipampanglah itu info di mading sekolah. Ajaibnya ada yang tertarik meski hanya dua orang saja; Ririn dan Bagus Gumelar. He…. Maka bergerilyalah kami bertiga membaca-baca cerpen, lalu belajar jujur dalam menulis sampai sore hari. Hampir selama satu minggu, kami melakukan aktivitas serupa. Keragu-raguan dan ketakutan bukan hanya miliki mereka berdua tapi juga punyaku. “Bagaimana jika mereka gagal dalam percobaan ini?” Bukan apa-apa turn over sekolah tinggi karena alasan-alasan sederhana;
1. sulitnya pelajaran bahasa Inggris
2. banyaknya lowongan pekerjaan dengan upah sebanding
3. dukungan orang tua untuk anaknya agar bekerja (meski masih usia sekolah).


Allah punya rencana sempurna. Bagus yang periang, cerpennya tak lolos seleksi. Ririn yang pendiam cerpennya lolos seleksi provinsi. Alangkah senang hati kami… Akhirnya cerpen Ririn menuju Jakarta! Alhamdulillah.


nb: Siswa lainnya banyak terusik, mengingat itu cerpen pertama yang ditulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 14 Februari 2011 by in Testimonium.

Goodreads

Keren Tanpa Rokok

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

kontak via fb

Arsip

Kategori

Pengunjung

  • 86,515 orang

Sedang Berkunjung

%d blogger menyukai ini: