Sedang Belajar

: belum tahu di pedas lada (belum berpengalaman)

Istana Kuning & Langit Abu

28 Januari 2011 kami (guru & siswa) berkesempatan mengunjungi Istana Kuning di Pangkalan Bun. Sebuah situs sejarah dari Kerajaan Kutaringin, Kerajaan Islam satu-satunya di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah.

Sejarah Singkat Kerajaan Kutaringin

Kerajaan ini barangkali tak pernah atau jarang kita dengar dalam pelajaran sejarah di sekolah. Kerajaan Islam umumnya hanya dikenali lewat Samudera Pasai atau Demak. Konon, ada beberapa orang dekat Presiden Soekarno yang sengaja membenamkan keberadaan kerajaan-keraajaan Islam di Kalimantan. 
Kerajaan Kutaringin secara etimologi berasal dari kata “Kuta” (pagar) dan “Ringin” (beringin). Basis kerajaan ini adalah Pangkalan Bun. Raja pertama kerajaan ini adalah Pangeran Adipati Antakesuma (1673-1696), adik kandung dari Raja Banjar generasi ke-4 Pangeran Adipati Tuha. Masyarakat Banjar ketika itu menyukai Pangeran Adipati Antakesuma untuk menjadi raja, namun beliau tak mau melanggar tradisi yang memberikan gelar langsung kepada anak lelaki tertua.

Perjalanan Pangeran Adipati Antakesuma &  Surga Etimologi

Akhirnya Pangeran Adipati Antakesuma meminta restu kepada sang kakak untuk memperluas wilayah kerajaan Banjar dengan pergi merantau. Nah, sepanjang perjalanan merantau ini, kesan pertama pangeran terhadap daerah-daerah yang dilalui menjadi penamaan resmi sampai sekarang.
Daerah Taman Nasional Sebangau (Kab. Katingan) yang kesohor itu berasal dari kata “Ingau” (gemuruh), hal tersebut diujarkan karena hiruk-pikuk Kerajaah Banjar masih terdengar dari sungai itu, maka muncullah kata Sebangau. Perjalanan dilanjutkan menuju Sampit yang dirasakan terlampau sempit untuk dibuat menjadi sebuah daerah kerajaan. Tepian pulau pun disusuri oleh pangeran dan tibalah di sebuah kuala (tempat pertemuan sungai dengan sungai atau sungai dengan laut). Penduduk yang ditemui ternyata menolak ajakan pembuatan kerajaan baru sehingga pangeran merasa terbuang, Kuala Pembuang kini menjadi Ibu Kota Kabupaten Seruyan. Akhirnya setelah menempuh beragam jalan dan tempat, perjalanan terhenti di Pangkalan Bun yang berasal  dari tempat mangkalnya Pak Bu`un seorang tetua Suku Dayak yang tersohor dan menerima kehadiran pangeran. Hal ini menjadi beberapa sebab mengapa tidak terjadi kerusuhan di Pangkalan Bun ketika terjadi konflik antarsuku.

Hikayat Istana Kuning

Istana ini tak berwarna kuning! Itulah kejutan pertama. Istana ini pernah terbakar hangus tak tersisa! Itulah kejutan kedua. Pemerintah memprioritaskan membangun PBP (Pangkalan Bun Park) daripada Istana Kuning! Ah, ini bukan kejutan sepertinya ya, he… Istana ini hanya berwarna kuning pada gerbangnya, nama resmi istana panjang seperti nama pemain bola Brazil (Ricardo… dipanggil Kaka`, he…). Peristiwa pilu ini terjadi pada tahun 1986. Muasal terbakarnya istana sangat ganjil karena api berasal dari pakaian compang-camping perempuan yang “sakit”. Perempuan itu dinodai di istana yang memang sudah sangat terbengkalai oleh pria-pria amoral. Sejatinya kayu ulin yang lebih bagus tinimbang jati tak akan terbakar oleh api serupa itu! Abu menyeruak memenuhi udara. Tahun itu telah menjadi tahun kesedihan atas punahnya sebuah sejarah, sekaligus sebagai peleburan hal-hal kotor dalam upaya syiar keagamaan. Istana Kuning yang dibangun oleh pada pemerintahan Ratu Alamsyah ini dibangun kembali pada tahun 2000 dan kini mulai difungsikan untuk kegiatan pariwisata dan perkantoran dengan tujuan mengakrabkan istana dengan masyarakat setempat. Kami pun kemarin menggunakan istana untuk kegiatan makan siang dan makan sore pada keesokan harinya. Langit ketika kami berkunjung mendung berwarna abu, mengingatkan kami pula bahwa suatu perjalanan sejarah yang panjang bisa runtuh dengan sekejap.

Kunjungan kami ke Istana Kuning dijamu oleh Pak Syahrini yang masih merupakan keluarga Pengeran. Info Istana ini disampaikan dengan jelas seluruhnya oleh Beliau. Terima kasih banyak telah menjamu kami!

6 comments on “Istana Kuning & Langit Abu

  1. panjiirfan
    10 Februari 2011

    @ Pak Willy. Iya Pak Willy, kami kesana dengan anak-anak sekolah. Sebelumnya, kami menjalin kontak dengan pihak istana menanyakan sajian edukasi yang bisa difasilitasi oleh pihak istana. Eh, ternyata Pak Syahrini (pengelola Istana Kuning) malah menawarkan untuk menggunakan salah satu ruangannya untuk digunakan sebagai tempat makan. Alhamdulillah. Kami kesana dalam rangka memberikan hadiah kepada puluhan siswa yang menunjukkan prestasi di sekolah. he… Terima kasih telah singgah Pak Willy!

  2. panjiirfan
    10 Februari 2011

    Alhamdulillah, belum apa-apa pak. He.. Saya banyak belajar dari blog atau dari buku Bahasa Indonesia yang Bapak Sawali dan teman-teman buat. Buku bahasa Indonesia yang dibuat Bapak dan tim beda dari ilustrasi kata pengantar dan ilustrasi per-bab nya. Terima kasih banyak telah singgah Pak. He..

  3. Willy Ediyanto
    10 Februari 2011

    Kami yang dekat, sekitar 15 KM dari lokasi Istana Kuning, belum pernah makan di sana. He he. Selamat datang, Pak. dalam rangka apa berkunjung ke Istana Kuning? Acara keluarga atau acara sekolah?

  4. sawali tuhusetya
    9 Februari 2011

    wah, makin salut sama langkah2 pembelajaran yang dilakukan pak irfan. peserta didik diajak langsung ke objek nyata sehingga bisa terhindar dari perangkap verbalisme. dengan menyaksikan situs secara langsung, anak2 bisa mengkonstruksi info dan pengetahuan historis berdasarkan pengalaman belajar yang mereka peroleh. salam peduli anak bangsa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 9 Februari 2011 by in Helo Borneo, Kronik, Sekolah Eksternal and tagged , , , .

Goodreads

Keren Tanpa Rokok

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

kontak via fb

Arsip

Kategori

Pengunjung

  • 86,552 orang

Sedang Berkunjung

%d blogger menyukai ini: