Sedang Belajar

: belum tahu di pedas lada (belum berpengalaman)

Thich Quang Duc

Dunia sedang bergejolak oleh pemanasan global, suhu politik memanas di Afrika (Tunisia, Mesir, Pantai Gading, Nigeria, Rwanda, Sudan) di Asia (Srilangka, Bangladesh, China, Thailand, Korea Selatan, & Korea Utara). Masyarakat di negara-negara tersebut telah secara terbuka memusuhi pemerintah yang sejatinya adalah perpanjangan hati, pikiran, dan lidah masyarakat semua lapisan. Pemerintah yang telah permanen melakukan kontradiksi antara kata dan kerja barangkali perlu benar-benar dihentak oleh gerakan frontal, masif, dan berani. Di Mesir artefak budaya kuno di beberapa museum sudah benar-benar tak diindahkan lagi. Di Thailand, masyarakat pro Thaksin sampai melakukan aksi donor darah dari semua simpatisan yang lalu digunakan untuk menyiram kantor pemerintah.

Puluhan tahun lalu Thích Quảng Đức (versi bahasa Vietnam) di sebuah siang yang riuh di Saigon (sekarang Ho Chi Minh) tanggal 11 Juni 1963 melakukan aksi yang tenang namun berbahaya.  Duc adalah seorang Biksu Budha Mahayana yang melakukan aksi protes terhadap rezim Ngô Đình Diệm yang kerap melakukan penyiksaan dan hambatan-hambatan kepada biksu bertahun-tahun. Bersama ratusan biksu lainnya yang ikut mengantarkan menuju keramaian, Duc membakar dirinya hingga tewas. Setelah tewas, abunya kini disimpan di sebuah pagoda dengan namanya sendiri, sedangkan hatinya yang masih utuh kemudian diawetkan. Aksi berani Duc berhasil dipublikasikan oleh Malcolm Browne seorang jurnalis Amerika dan pada tahun yang sama ia pun meraih Penghargaan Pulitzer atas fotonya tersebut.

Publikasi besar-besaran foto tersebut telah meninggikan tekanan masyarakat dunia terhadap Ngo Dinh Diem yang bersekutu dekat dengan Amerika Serikat. Diem meredakan tekanan internasional dengan membangun secara massal pagoda di seluruh wilayah Vietnam. Situasi politik yang dianggap belum mencerahkan selama kurun waktu 8 tahun pemerintahannya tak menghentikan aksi biksu-biksu lainnya yang mengikuti aksi Duc. Krisis politik benar-benar merada setelah secara tragis Diem dibunuh oleh Nguyễn Văn Nhung, seorang mayor pada angkatan bersenjata Vietnam. Pembunuhan itu terjadi setelah Vietnam dan Amerika Serikat tak lagi seharmonis dulu.  Gerakan merestorasi Vietnam, termasuk peristiwa pembunuhan itu dipimpin oleh Ho Chi Minh yang sekarang resmi menjadi nama kota terbesar di Vetnam mengganti Saigon.

Rangkaian ketulusan dan pengorbanan Duc, kejelian Malcolm Browne, keberanian Nhung dan Minh adalah sebuah kisah kemanusiaan. Kisah yang bermula dari cinta, cinta akan kemerdekaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 2 Februari 2011 by in Kronik, Soliter Primer and tagged , , , .

Goodreads

Keren Tanpa Rokok

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

kontak via fb

Arsip

Kategori

Pengunjung

  • 86,552 orang

Sedang Berkunjung

%d blogger menyukai ini: